Kopi Indonesia: Masa Lampau, Masa Kini, dan Masa Industri 4.0

Kopi Indonesia: Masa Lampau, Masa Kini, dan Masa Industri 4.0

Bagikan Tulisan Ini:

Ditemukan pada abad ke-11 di sekitar daerah yang sekarang dikenal sebagai Eritrea dan Etiopia, kopi telah berkembang menjadi sebuah budaya—banyak orang kini mengandalkan secangkir kopi untuk membangun pagi mereka yang cerah. Sebuah artikel dari Business Insider mengungkapkan bahwa kopi adalah komoditas yang paling dicari di dunia, dengan nilainya mencapai USD 100 miliar—menempati posisi kedua setelah minyak mentah.1 Berdasarkan data dari The Statistics Portal, Indonesia adalah negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia, setelah Brazil, Vietnam, dan Kolumbia.2 Meskipun meneguk secangkir kopi di pagi hari belum menjadi rutinitas sebagian besar masyarakat Indonesia, saat ini terdapat peningkatan permintaan terhadap konsumsi kopi, terutama pada kalangan anak muda.

Kopi pertama kali ditanam di Indonesia oleh koloni Belanda pada era 1690an. Pada waktu itu, kualitas yang tinggi dari kopi Indonesia menempatkan Belanda sebagai pedagang kopi terbesar di dunia. Industri ini kemudian diambil alih oleh pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan tahun 1945. Pada umumnya, Indonesia memproduksi kopi jenis Robusta dan Arabika dan mengekspornya ke Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Itali, dan Inggris.

Meskipun menempati posisi tertinggi ke empat sebagai pengekspor kopi terbesar di dunia, saat ini produksi kopi Indonesia sedang mengalami penurunan. Selama 2010-2015, produksi komoditas tersebut memang mengalami kenaikan yang konstan, dengan rata-rata kenaikan per tahun sebanyak 1.29 ton. Namun, pada tahun 2016, produksi kopi Indonesia turun sebanyak 0.1% menjadi 639,305 ton. Perkiraan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia menunjukkan jumlah produksi kopi dari Indonesia pada tahun 2017 akan turun lagi sebanyak 0.27% menjadi 637,539 ton, dikarenakan oleh cuaca yang buruk.3

Sejalan dengan menurunnya produksi kopi, konsumsi kopi domestik meningkat di Indonesia, khususnya di kalangan anak muda. Data dari Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia menunjukkan terdapat 8% peningkatan konsumsi kopi per tahun di Indonesia, seperti yang dapat dilihat dari menjamurnya kedai kopi saat ini. Hal ini juga dapat terlihat dari kenaikan harga kopi. Harga kopi jenis Robusta naik dari Rp. 25,000 per kg menjadi Rp. 40,000 per kg, sedangkan untuk jenis Arabika menjadi Rp. 60,000 per kg dari Rp. 40,000 per kg.4

Dengan bertambahnya permintaan akan kopi dan berkurangnya produksi, maka menjadi suatu tantangan pada Indonesia untuk memenuhi permintaan dunia akan kopi. Dari United States Department of Agriculture diketahui bahwa ekspor kopi Indonesia mengalami penurunan sebanyak 15% di tahun 2016. Secara spesifik, pengiriman biji kopi hijau jatuh sebanyak 33% menjadi 117,000 ton selama periode Januari-Mei 2016.5 Berkaca pada data dari Indonesian Trade Promotion Centre Milan, Indonesia hanya memenuhi 4.17% dari total permintaan kopi Uni Eropa. Hal ini juga mungkin diakibatkan oleh tingginya standar UE dalam hal keberlanjutan dan jejak produksi kopi.6

Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pada tahun 2016 mengumumkan bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana sebesar Rp. 1,5 Triliun selama 5 tahun kedepan untuk mendorong produksi kopi nasional. Pada awal tahun 2017, Kementerian Pertanian menginformasikan rencananya untuk memperluas perkebunan kopi sebanyak 8,850 ha dalam beberapa sentral produksi—4,900 ha untuk kopi jenis Robusta dan 3,950 untuk jenis Arabika. Terdapat juga rencana untuk menangani organisme pengganggu tanaman, memberikan bantuan alat pengolahan dan pascapanen, memberikan bibit berkualitas, serta memperbaiki kebun induk.7

Dengan komitmen ini, Indonesia dapat mengembangkan industri kopinya dalam tiga segmen. Pertama, Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan yang ada di pasar Asia. Selama bertahun-tahun, budaya minum teh memberikan rintangan terhadap budaya minum kopi di Asia. Meskipun begitu, data dari Bisnis.com menunjukkan bahwa selama 2011-2016, konsumsi kopi di Asia meningkat sebanyak 95%, yang merupakan peningkatan konsumsi kopi terbesar di dunia. Angka ini juga jauh lebih tinggi dari peningkatan konsumsi teh di benua tersebut, yang hanya mencapai 55% pada periode yang sama.8 Hal ini mengindikasi adanya perubahan dari budaya minum teh menjadi budaya minum kopi di Asia. Sebagai produsen kopi terbesar kedua di Asia, Indonesia mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk memanfaatkan momentum ini.

Kedua, sejalan dengan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kualitas kopinya, Indonesia dapat berkerjasama dengan UE mendasari pada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) diantara keduanya. Di dalamnya, terdapat program peningkatan kapasitas yang ditargetkan untuk eksportir komoditas dari Indonesia untuk memenuhi standar keberlanjutan dan jejak produksi dari UE. Hal ini memberikan potensi yang baik terhadap Indonesia untuk memenuhi lebih dari 4.17% dari total kebutuhan kopi UE.

Ketiga, Indonesia harus didorong untuk memproduksi lebih banyak kopi pod. Di tahun 2016, kepopuleran kopi pod meningkat dalam bisnis kopi global. Penjualannya mencapai 26% peningkatan di tahun 2016, naik dari 11% di 2011. Pada periode yang sama, penjualan kopi panggang dan bubuk hanya meningkat 2.5%. Di Asia Pasifik, penjualan kopi pod juga naik dari 4% di 2011 menjadi 13% di 2016.9 Meskipun kopi pod dianggap tidak ramah lingkungan, hal ini dapat ditanggulangi melalui inovasi karena pada dasarnya bisnis kopi pod adalah bisnis yang menjanjikan. Apalagi, merujuk pada konsep leapfrogging pada diskursus ekonomi dan bisnis, perusahaan Indonesia dapat bersaing dengan perusahaan besar dari negara-negara maju, seperti Kellogg dan Nescafe. Hal ini dikarenakan perusahaan Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam hal kekayaan kopi yang Indonesia miliki. Untuk itu, Indonesia memiliki kesempatan untuk memainkan peran yang lebih besar dalam bisnis ini.

Masa Industri 4.0, masa ini memberikan jaringan digital berkontribusi dalam memberikan pengetahuan kepada konsumen. Pengetahuan tersebut meliputi pengenalan proses produksi kopi dari proses pengambilan biji sampai menjadi secangkir kopi untuk konsumen.  Industri 4.0 memiliki potensi yang sangat besar bagi perkembangan industri kopi. Potensi tersebut salah satunya adalah proses rantai produksi dan distribusi kopi yang dapat berkembang melalui teknologi.

Apa yang tidak diantisipasi pemerintah Indonesia dalam rencanya mengembangkan industri kopi Indonesia adalah dalam hal memberikan pelatihan terhadap pemimpin-pemimpin perusahaan untuk mematenkan produksi mereka. Hal ini dapat melindungi mereka dari persaingan yang seharusnya tidak terjadi. Sebagai contoh, di tahun 2001 Kopi Toraja dari Indonesia tidak mendapat izin penjualan di Jepang karena kopi tersebut sebelumnya sudah dipatenkan oleh sebuah perusahaan Jepang bernama Key Coffee.10 Untuk itu, menjual Kopi Toraja di Jepang berarti melanggar perlindungan hak-hak intelektual.

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Tania Delavita Malik

Senior Researcher

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment