Industri Otomotif Indonesia dan Industri 4.0

Industri Otomotif Indonesia dan Industri 4.0

Bagikan Tulisan Ini:

ppSelamat datang Industri 4.0. Otomatisasi, digitalisasi dan robotisasi merupakan istilah yang kental dengan Industri 4.0. Penggunaan teknologi tersebut dapat meningkatkan produktivitas dari industri, tidak terkecuali industri otomotif Indonesia. Industri otomotif Indonesia dirintis sebagai sektor impor yang penjualannya bergantung pada Completely Build-up Units (CBU) dan unit Completely Knocked-Down (CKD) yang di dampingi oleh produksi komponen tersier sebagai komoditas lokal. Hingga pada tahun 1971, Mitsubishi menjadi perusahaan mobil asing pertama yang mengantongi izin sebagai pemegang merk (APM) dan berhasil menstimulasi geliat pasar kendaraan bermotor nasional dengan penjualan tahunan sebesar 50.000 unit.

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan berperan penting dalam perkembangan industri otomotif nasional. Dimulai dengan penerbitan peraturan penyetopan impor mobil utuh (CBU) dan paket peraturan “penanggalan komponen” sebagai stimultan industri dalam negeri, hingga program mobil nasional pada tahun 1996 yang mewajibkan manufaktur otomotif untuk memiliki kandungan lokal 20% hingga 60% sebagai insentif pembebasan bea impor. Meski pada tahun 1999 impor CBU kembali diberlakukan, namun terbukanya pasar global setelah runtuhnya rezim orde baru membuka keran investasi nasional secara signifikan.

Saat ini industri otomotif nasional di ramaikan oleh 53 merk mobil dan motor, dan menduduki peringkat 15 dunia dalam total penjualan domestik berkat peningkatan GDP per kapita yang positif. Oleh karenanya industri otomotif Indonesia telah berevolusi dari industri berorientasi import menjadi pusat produksi domestik berorientasi ekspor yang menjadikannya sebagai salah satu pillar industri terpenting dalam ekonomi nasional.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) dan Asosiasiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), setiap tahunnya Indonesia memproduksi settidaknya 1,2 juta mobil dan 7 juta motor, menjadikan produksi otomotif nasional sebagai salah satu yang terbesar di dunia saat ini. Meski terdapat beragam merk mobil dan motor dari seluruh dunia, pasar otomotif domestik masih di dominasi oleh merk-merk Jepang. Toyota dan Daihatsu memimpin pasar diikuti oleh merk lain seperti Mitsubishi, Suzuki, dan Honda. Pada tahun 2016, Toyota dan Daihatsu menguasai 45% pasar penjualan mobil domestik, sedangkan dikategori sepedamotor di kuasai oleh merk Honda dan Yamaha.

Pasar otomotif nasional masih menyimpan potensi besar, hal ini didasari hasil analisis pasar otomotif nasional oleh perusahaan Frost and Sullivan yang mengestimasi kepemilikan kendaraan di Indonesia hanya sekitar 80 kendaran setiap 1000 orang atau 10 kali lebih sedikit dibanding kepemilikan kendaraan di Amerika Serikat. Data ini menunjukan adanya potensi perkembangan, baik dalam hal kepemilikan kendaraan maupun penjualan kendaraan bermotor yang signifikan. Dengan makin banyak orang Indonesia menganggap kendaraan bermotor sebagai kebutuhan, penjualan kendaraan bermotor diprediksi meningkat terus ditahun-tahun mendatang. Diperkenalkannya Low-Cost Green Cars (LCGC) oleh pemerintah pada tahun 2013 juga membantu mendongkrak motivasi konsumen untuk memiliki mobil khususnya konsumen kelas menengah ke bawah. Hanya saja meski di perkenalkan sebagai mobil ekonomis, konsumen domestik condong memilih kendaraan kelas Multi-Purpose Vehicle (MPV) seperti Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia ketimbang kendaraan LCGC.

Setelah berhasil melewati krisis finansial tahun 2009, industri otomotif nasional berkembang sangat pesat berkat meningkatnya populasi kalangan menengah dan tingginya kepercayaan konsumen dalam negeri. Selain itu, rendahnya kepemilikan kendaraan perkapita dan rendahnya gaji buruh domestik semakin menguatkan posisi tawar pasar otomotif Indonesia sebagai destinasi investasi. Meski begitu, tahun 2014 dan 2015 mencatat tren pelambatan penjualan mobil yang disebabkan oleh factor eksternal seperti meningkatnya biaya down payment (DP), pencabutan subsidi bahan bakar, dan inflasi yang seringkali melemahkan kepercayaan konsumen terhadap pasar otomotif.

Dalam industri komponen, rendahnya innovasi dan produksi barang canggih membuat industri komponen otomotif nasional gagal memimpin pasar regional. Salah satu faktor penyebabnya ialah sistem bebas tariff yang diberlakukan ASEAN free trade dan ASEAN-China free trade yang mendegradasi competitiveness value produk-produk manufaktur domestik. Meski GAIKINDO mencatat adanya kenaikan signifikan akan ekport komponen otomotif dari 4,6 juta buah pada tahun 2015 menjadi 6,2 juta buah pada tahun 2016, namun ketidaktersediaan fasilitas manufaktur yang mampu memproduksi komponen mutakhir dan rendahnya sumber daya manusia telah lama menjadi penghalang lahirnya komponen berteknologi tinggi di Indonesia.

Perubahan tren pasar otomotif global yang ditandai oleh lahirnya kendaraan generasi baru seperti Hybrid Electronic Vehicle (HEV) dan Battery Electronic Vehicle (BEV) menuntut mengaplikasian teknologi dan standar manufacturing yang lebih tinggi yang merupakan tantangan sekaligus kesempatan bagi industri otomotif nasional. Sayangnya, industri otomotif nasional akan kesulitan mengikuti tren ini dengan fasilitas manufaktur yang dimiliki saat ini. Tantangan lain datang dari dalam negeri, akan hadirnya Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Rail Train (LRT) di ibukota pada tahun 2018 sebagai moda trasnportasi perkotaan terbarukan akan merubah pandangan sebagian masyarakat terhadap penggunaan kendaraan pribadi dan secara tidak langsung berdampak pada berkurangnya permintaan akan kendaraan pribadi. Kondisi ini penting di response mengingat ibbukota Jakarta merupakan salah satu daerah dengan angka penjualan otomotif terbesar di Indonesia.

Untuk merespon beberapa tantangan ini, pemerintah perlu berusaha lebih keras memberantas isu red tape dalam birokrasi bisnis domestik untuk menarik lebih banyak investasi, di damping dengan peningkatan kualifikasi sumber daya manusia dan insentif dalam pembangunan fasilitas manufaktur mutakhir di Indonesia. Agar mampu mengikuti tren pasar otomotif global, industri domestik diharapkan mampu mengadopsi teknolgi terbarukan, mengalakkan program research and development (R&D) dan mendukung adanya transfer teknologi dalam industri. Pemerintah dan bisnis juga berperan penting menumbuhkan industri start-up sebagai platform innovasi teknologi domestik, untuk itu perlindungan paten perlu diperkuat dan proses administrasi paten harus dipermudah. Masa depan industri otomotif nasional bergantung pada respon pemerintah dan industri terhadap permintaan pasar domestik begitu juga tren pasar otomotif nasional.

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Ardhi Herizharmas

Managing Director

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment