Telaah Produk Tekstil dan Produk Tekstil di Masa Industri 4.0

Telaah Produk Tekstil dan Produk Tekstil di Masa Industri 4.0

Bagikan Tulisan Ini:

Industri 4.0 akan membawa berbagai kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi tersebut dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas dari industri, salah satunya industri tekstil. Indonesia sendiri merupakan pemain di Industri tekstil global. Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh negara eksportir fashion berkualitas di dunia. Produk fashion yang terdiri dari tekstil dan produk tekstil Indonesia memasok untuk berbagai brand internasional seperti Hugo Boss, Giorgio Armani, Guess, Mark and Spencer, dan Mango. Produk tekstil dan produk tekstil lokal pun berkembang sangat baik mulai dari hulu hingga hilir.  Industri ini tediri dari fiber making, spinning, weaving, knitting, dyeing finishing dan garment.

Selama ini target pasar ekspor tekstil Indonesia yaitu kelas menengah. Hal ini terlihat dari negara tujuan ekspor tertinggi yaitu Amerika Serikat. Berdasarkan data Kementrian Perdagangan, pada tahun 2015 jumlah ekspor TPT ke Amerika Serikat bernilai US$ 3.250.000 dan senilai US$ 3.150.000 pada tahun 2016. Oleh karena itu, industri tekstil dan produk tekstil menjadi salah satu industri andalan Indonesia.

Perkembangan tekstil di Indonesia sudah ada pada komunitas lokal di berbagai wilayah, bentuknya mulai dari pembuatan benang dengan kapas, pembuatan tenun dan batik. Tekstil bukan hanya memenuhi kebutuhan sandang, tetapi juga menjadi kreasi seni dan budaya. Pada tahun 1929 tekstil menjadi industri rumahan. Selanjutnya pada tahun 1970an industri tekstil mulai menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Ketika Alat Tenun Mesin (ATM) diperkenalkan pada industri tekstil Indonesia, sektor ini menjadi industri berkembang pesat sampai saat ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah perusahaan tekstil dan produk tekstil merupakan yang tertinggi kedua setelah perusahaan makanan. Terdapat 2.555 perusahaan tekstil dan 2.141 perusahaan pakaian jadi. Industri tekstil dan produk tekstil termasuk sektor padat karya dan menyerap banyak tenaga kerja. Data BPS pun membuktikan adanya peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor tekstil. Pada tahun 2014 jumlah tenaga kerja di sektor tekstil sejumlah 546.946 dan sektor pakaian jadi sejumlah 636.684. Permintaan tenaga kerja di sector tekstil dan produk tekstil dapat terus meningkat, bahkan pada tahun 2015 beberapa perusahaan di Jawa Tengah mengalami kesulitan mencari tenaga kerja.

Data BPS yang diolah oleh Kementrian Perindustrian menyebutkan bahwa terdapat penurunan jumlah nilai ekspor tekstil dan produk tekstil. Pada tahun 2014 dan 2015 terjadi penurunan ekspor industri pakaian sejumlah 1,1%. Penurunan juga terjadi pada industri tekstil sebesar  7,05 %. Pada saat yang sama, nilai impor tekstil dan produk tekstil juga menurun. Pada tahun 2014 dan 2015 penurunan nilai impor industri tekstil  sebesar 3,43 %. Selanjutnya impor industri pakaian juga menurun cukup tinggi yaitu 10,19%. Berdasarkan data diatas, terlihat walaupun nilai ekspor menurun, akan tetapi nilai impor juga menurun. Sehingga industri tekstil dan produk tekstil masih surplus dan berkontribusi pada GDP (Gross Domestic Product).

Industri tekstil dan produk tekstil memberikan sumbangan cukup besar terhadap GDP. Berdasarkan data Kementrian Perindustrian kontribusi industry ini terhadap GDP pada tahun 2015 yaitu 6,65%. Akan tetapi, angka itu merupakan penurunan karena pada tahun 2014 kontribusi tekstil dan produknya terhadap GDP yaitu 7,37 %.

Terdapat tantangan untuk mengembangkan industri ini, pertama industri tekstil Indonesia dapat bersaing dalam pasar global, akan tetapi masih kalah dengan Vietnam dan Bangladesh. Pada tahun 2015, ekspor tekstil Vietnam meningkat 11 %. Hal tersebut terjadi karena upah buruh Vietnam lebih murah dibanding Indonesia.  Vietnam juga memiliki Free Trade Agreement dengan Eropa sehingga bebas bea masuk. Kedua, cukup tingginya impor tekstil dari China. Tekstil yang diimpor banyak menggunakan motif batik dan songket.

Industri tekstil di Indonesia saat ini berada pada fase penurunan. Akan tetapi hal ini kurang menjadi fokus dari stakeholder industri tekstil karena kondisi saat ini masih surplus. Hal yang perlu diantisipasi yaitu kemungkinan munculnya “boiling frog”. Boiling frog yaitu adanya potensi situasi krisis yang tidak disadari oleh pelaku industri. Hal ini karena kondisi pasar yang terlihat baik-baik saja akan tetapi terjadi penurunan secara perlahan. Penurunan daya beli dan nilai ekspor tidak ditangani secara serius. Ketika krisis telah terjadi maka pelaku industri baru akan berusaha merubah strategi atau melakukan suatu perbaikan.

Industri tekstil Indonesia berisiko mengalami boiling frog. Berdasarkan data BPS dan kementrian perindustrian diatas terlihat bahwa ada penurunan secara perlahan dalam ekspor tekstil. Walaupun impor tekstil juga menurun, akan tetapi selisihnya cukup kecil. Kementrian Perindustrian juga menyebutkan adanya menurunan pada pertumbuhan industri textile. Pada tahun 2013 pertumbuhannya yaitu 6,58% dan menurun pada tahun 2014 menjadi 1,53%. Bahkan pada tahun 2015 terjadi penurunan yang signifikan yaitu -4,79%.

Di sisi lain, industri tekstil dan produk tekstil memiliki potensi untuk terus berkembang. Hal ini didukung dengan meningkatnya investasi. Berdasarkan data kementerian perindustrian, realisasi investasi dalam negeri bernilai US$ 2.724.500.000 pada tahun 2015. Pada tahun 2015 juga ada investasi asing pada industri tekstil sebesar US$ 433.400.000. Selain itu, Indonesia juga memiliki kelebihan berupa upah tenaga kerja Indonesia lebih rendah dibanding China. Hal ini mendorong meningkatnya investasi asing. Selama ini Indonesia juga telah memproduksi berbagai produk tekstil untuk brand asing.

Indonesia telah memiliki potensi sumberdaya alam sebagai bahan baku produksi tekstil. Masyarakat Indonesia sendiri memiliki aneka ragam jenis produk tekstil yang dapat dikembangkan baik secara rumahan maupun usaha besar. Oleh karena itu perlu keterlibatan berbagai pihak untuk mengembangkannya.

Tenaga kerja terdidik dan terampil dalam industri tekstil perlu ditingkatkan, maka lembaga pendidikan perlu dikembangkan. Selain aktif pada persaingan global, perlu juga memerhatikan persaingan domestik. Hal ini agar produk lokal tidak kalah bersaing dari produk impor. Pemerintah pun perlu meningkatkan pengawasan pada produk tekstil impor ilegal.

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Nitia Agustini KA

Researcher

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment