Tekstil dan Industri 4.0 Indonesia

Tekstil dan Industri 4.0 Indonesia

Bagikan Tulisan Ini:

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu industri unggulan di Indonesia. Sepanjang Januari-juli 2018, nilai pengapalan produk TPT Indonesia telah menembus US$ 7,74 miliar dan di akhir tahun 2018 diharapkan dapat mencapai US$14 miliar. Ekspor di industri TPTP dapat meningkat seiring dengan adanya skema perjanjian kerjasama antara Indonesia dengan Australia (IA-CEPA). Melalui Skema CEPA, produk Indonesia yang diekspor ke Australia bea masuknya sebesar 0 persen, termasuk produk TPT yang sebelumnya dikenakan tari 10 persen sampai 20 persen.

Sektor TPT merupakan sektor yang labor-intensive, sehingga sektor tersebut menyerap banyak tenaga kerja. Data Kemenperin menunjukan bahwa tiga sektor industri yang menyerap tenaga kerja terbanyak di tahun 2017 adalah industri makanan dan minuman sekitar 3,3 juta orang, industri otomotif sekitar 3 juta orang, serta industri TPT sekitar 2,73 juta orang.  Menurut Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, setiap pertumbuhan 1 persen industri TPT akan menyerap sekitar 10.000 tenaga kerja. Hal tersebut menunjukan betapa pentingnya peran dari pertumbuhan sektor industri TPT terhadap penyerapan tenaga kerja. Tidak dapat dipungkiri bahwa industri tekstil saat ini masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada impor bahan baku, biaya produksi yang tinggi sehingga mengurangi daya saing, dan memiliki tenaga kerja dengan kompetensi yang rendah. Sebagai perbandingan biaya produksi, Biaya listrik di Indonesia mencapai $10 cent/kwh, sedangkan di Vietnam sebesar $7 cent/kwh di Vietnam dan di Bangladesh $6 cent/kwh. Tantangan yang tentu tidak boleh dilupakan adalah Revolusi Industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 merupakan tren penggunaan teknologi canggih di dalam sistem produksi manufaktur. Implementasi teknologi industri 4.0 dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi yang tentu menguntungkan bagi industri TPT. Berbagai contoh penggunaan teknologi industri 4.0 di industri teksil misalnya ada virtual sticher, yaitu pembuatan garmen prototype secara visual 3 Dimensi. Teknologi selanjutnya ada Garment Monitoring System untuk melakukan monitoring pelaksanaan produksi garmen seperti  Right First Time, Wrong First Time, Efficiency, Defect Rate, teknologi 3D Forming untuk memotong dan mengukir pola dengan menggunakan laser 3D, dan teknologi Fabric Simulation untuk melakukan simulasi pembuatan kain secara komputerisasi. Teknologi Automation/Robotic dan Artificial Intelligence in Process menjadi tantangan utama di dalam industri tekstil karena berpotensi untuk menggantikan manusia di dalam proses produksi.

International Labour Organization (2016) menulis laporan yang berjudul “ASEAN in Transformation: Textiles, Clothing and Footwear: Refashioning the Future” untuk menelaah bagaimana dampak dari kecanggihan teknologi mendisrupsi industri tekstil, pakaian dan alas kaki di ASEAN. Pertama, sektor industri tekstil, pakaian dan alas kaki di ASEAN merupakan sektor yang labor-intensive, yang artinya menyerap banyak tenaga kerja. Di ASEAN sendiri, sektor ini menyerap sekitar 9 juta tenaga kerja dan didominasi oleh perempuan berusia muda (ILO, 2016). Hasil laporan tersebut menunjukan bahwa sektor tekstil, pakaian dan alas kaki merupakan sektor yang memiliki risiko yang paling tinggi dengan adanya automasi dibandingkan sektor elektronik, sektor otomotif dan sektor elektrik.  Bagaimana kecanggihan teknologi mendisrupsi sektor tekstil, pakaian dan alas kaki di ASEAN?

Sektor industri tekstil, pakaian dan alas kaki dibagi menjadi dua sektor, pertama sektor yang telah menerapkan teknologi yang canggih dan pekerja yang berkeahlian tinggi dan kedua adalah sektor low-end production yang menggunakan tenaga kerja berbiaya rendah. Peningkatan penggunaan teknologi canggih sama-sama terjadi di kedua sektor tersebut karena didorong oleh kebutuhan konsumen dan isu lingkungan.

Kecanggihan teknologi menyebabkan munculnya model produkasi fast-fashion. Dengan menggunakan fast-fashion, para pemain di industri pakaian dapat memproduksi barang yang sesuai dengan permintaan konsumen (consumer on-demand) dengan waktu produksi yang lebih singkat. Sebagai contoh, Zara telah berinvestasi untuk meningkatkan kapabilitas  teknologinya sehingga perusahaan mampu beradaptasi dengan perubahan permintaan produksi dalam waktu yang cepat. Sebagai tambahan, Zara juga menggunakan electronic ordering devices yang digunakan oleh manajer untuk mengirimkan pesanan langsung ke pusat Zara. Informasi yang real time membantu Zara dalam mengetahu berapa kapaistas produksi yang dibutuhkan dan membawa fleksibilitas ke manufaktur Zara. 

Teknologi yang telah diterapkan di industri pakaian adalah kustomisasi produk berdasar teknologi, seperti body scanners, additive manufacturing dan computer-aided design (CAD). Peran dari computer-aided design sangat membantu sektor industri pakaian karena mampu membuat pola, body scanning untuk pengukuran ukuran tubuh dan digital printing sehingga dapat memproduksi barang yag sesuai dengan keinginan konsumen. Sebagai contoh, Brooks Brothers merupakan salah satu perusahaan pertama yang mencoba mengadopsi body scanners di toko retailnya di New York pada tahun 2001. Dengan menggunakan 16 sensor, body scanners yang dimiliki Brooks Brothers mampu memproduksi 600.000 sampai 700.000 titik-titik data yang kemampuan akuratnya mencapai dua per sepuluh milimeter. Hasil penggunaan body scanners dapat dibilang cukup memuaskan, sebab biaya produksi dari Brooks Brothers mampu berkurang hingga mencapai 60 persen dari tahun 2001 sampai tahun 2010 (Crease, 2010). Tidak dapat dipungkiri, penggunaan body scanners berpeluang mengurangi pekerjaan dari para penjahit manual atau perusahaan yang menggunakan mesin jahit yang masih berteknologi rendah.

Penerapan teknologi di dalam sektor tekstil mampu menghasilkan “baju pintar”. “Baju pintar” tersebut jika dikenakan, dapat menghasilkan data medis, kesehatan, dan kebugaran karena mampu mengukur detak jantung, kalori yang terbakar dan data biometrik lainnya. Para ahli di pasar

Salah satu perusahaan tekstil di Indonesia yang telah menerapkan teknologi industri 4.0 adalah PT Pan Brothers Tbk. PT Pan Brothers Tbk merupakan perusahaan tekstil dan garmen yang telah memiliki 23 pabrik di 8 kota, termasuk Tangerang, Sukabumi, Bandung, Boyolali dan Sragen. Beberapa produk tekstil yang diproduksi oleh PT Pan Brothers Tbk merupakan merk-merk ternama seperti Uniqlo, Adidas, The North Face, H&m, IKEA dan puluhan mmerk internasional lainnya. Perusahaan tersebut telah mengekspor produknya ke Amerika, Eropa dan Asia. Teknologi 4.0 yang telah diterapkan oleh PT Pan Brothers Tbk meliputi artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Augmented Reality (AR), Advanced Robotics, dan 3D Forming. Dengan teknologi AI, desain dari produk tekstil dapat dijahit secara visual dengan menggunakan virtual stitcher tanpa kehadiran klien. PAN Brothers Tbk juga telah menggunakan IoT untuk memantau proses produksi hingga distribusi. PT Pan Brothers Tbk menggunakan pemilihan visual atas produk mereka dengan headmounted display agar mampu meningkatkan keamanan dari rantai nilai produksi. Menurut General Manager Marketing PT PAN Brothers Tbk Ade Ahmad Yani, Teknologi 4.0 dapat mengurangi waktu handling.

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment