Meraih Posisi Net Eksportir di dalam Industri Elektronik melalui Industri 4.0

Meraih Posisi Net Eksportir di dalam Industri Elektronik melalui Industri 4.0

Bagikan Tulisan Ini:

Indonesia sedang bersiap dalam menyambut Revolusi Industri 4.0. Persiapan tersebut dilakukan melalui pembuatan inisiatif Making Indonesia 4.0. Tujuan dari adanya inisatif Making Indonesia 4.0 adalah meningkatkan kontribusi net ekspor Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), meningkatkan rasio produktivitas dan biaya Indonesia hingga dua kali lipat dan meningkatkan pengeluaran terhadap penelitian dan pengembangan hingga 2 persen terhadap PDB. Selama ini, net ekspor Indonesia belum banyak berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dari Indonesia. Hal tersebut menunjukan ketergantungan pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap sumber lain seperti konsumsi rumah tangga. Padahal, net ekspor memiliki banyak manfaat bagi ekonomi yang salah satunya adalah memperbaiki defisit transaksi berjalan di Indonesia. Revolusi industri 4.0 merupakan hal yang sangat penting bagi Indonesia.

Penerapan dari industri 4.0 akan memberikan manfaat ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Hasil dari model A.T Kearney menunjukan bahwa making Indonesia 4.0 dapat meningkatkan 1-2 persen incremental GDP growth dari 2018-2030, menambah jumlah kesempataan pekerjaan sampai 10 juta dari baseline pada tahun 2030 dan meningkatkan kontribusi dari sektor manufaktur terhadap PDB hingga diatas 20 persen di tahun 2030. Dengan besarnya manfaat tersebut, pemilihan sektor prioritas dalam pengembangan industri 4.0 di Indonesia merupakan hal yang sangat penting.  Berdasarkan inisiatif Making Indonesia 4.0, Industri Elektronik merupakan salah satu dari lima sektor utama yang dipersiapkan di dalam menyambut revolusi industri 4.0. Pemilihan sektor terbesar berdasar kriteria ukuran industri, potensi net ekspor, dan studi kelayakan dari industri elektronik.

Industri elektronik Indonesia memiliki banyak peluang untuk berkembang. Peluang tersebut meliputi pasar elektronik yang sangat besar di ASEAN. Tidak hanya itu, produk elektronik Indonesia juga merupakan input utama dari beberapa sektor di dalam era revolusi Industri 4.0 sehingga industri ini memiliki peranan penting. Namun, industri elektronik Indonesia memiliki banyak tantangan (A.T Kearney). Menurut A.T Kearney, tantangan tersebut meliputi:

  • Ketergantungan impor pada komponen sektor elektronik. Ketergantungan impor ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang cukup merepotkan sebab dapat turut berpengaruh terhadap transaksi berjalan Indonesia.
  • Kapabilitas pengembangan dan desain yang masih rendah.  Hal tersebut dikarenakan terbatasnya investasi pada engineer dan  penelitian dan pengembangan
  • Kenaikan biaya tenaga kerja. Biaya tenaga kerja yang semakin tinggi tentu menjadi disinsentif bagi pihak swasta untuk berinvestasi di sektor elektronik
  • Biaya logisitk yang masih tinggi. Baiya logistik yang tinggi akan berpengaruh terhadap total biaya dari pihak swasta dan menjadi disinsentif.
  • Kekurangan domestic champion. Hal tersebut dikarenakan pemain domestic dari sektor elektronik cenderung terfragmentasi dan inefisien.
  • Tarif struktur yang masih tidak seimbang. Tidak ada tariff untuk finished goods dari negara ASEAN lainnya

Berbagai tantangan tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan seluruh pihak, baik pihak pemerintah maupun swasta. Industri elektronik memiliki peluang yang besar untuk meningkatkan kontribusi net eksportir terhadap PDB Indonesia. Strategi yang akan diterapkan untuk membawa industri elektronik ke industri 4.0 berdasarkan Making Indonesia 4.0 adalah (1) Menarik pemain global terkemuka dengan paket insentif yang menarik (2) mengembangkan kemampuan dalam memproduksi komponen elektronik bernilai tambah. (3) Mengembangkan kemampuan tenaga kerja dalam negeri melalui pelatihan intensif dan menarik tenaga kerja asing di bidang tertentu yang dibutuhkan dan (4) mengembangkan pelaku industri unggulan dalam negeri yang berkompeten untuk mendorong inovasi lanjutan dan mempercepat transfer teknologi. Berbagai strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kontribusi dari net ekspor terhadap PDB Indonesia sehingga sumber pertumbuhan utama Indonesia tidak hanya bergantung dari konsumsi rumah tangga.

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment