Memahami Sektor Tekstil dalam Revolusi Industri 4.0: Bagaimana Peluangnya?

Memahami Sektor Tekstil dalam Revolusi Industri 4.0: Bagaimana Peluangnya?

Bagikan Tulisan Ini:

Tahun lalu tepatnya 4 Desember 2017, sebuah pidato dari Miroslava Duma –CEO dan pendiri Fashion Tech Lab (FTL) dari Siberia- berjudulTransforming the Fashion Industry Through Technology” menjadi trending topic di saluran Youtube. Hal itu mengejutkan, karena di atas podium, Miroslava berbagi cerita mengenai industri fashion dan pakaian yang berkontribusi terhadap polusi industri terbesar kedua di dunia setelah minyak dan gas. Miroslava membawa ide mengenai industri terbarukan, ramah lingkungan, dan inovatif. Pidato nya menyebutkan bahwa FTL memiliki struktur yang dapat menghubungkan dengan investor dan innovators di perusahaan berteknologi tinggi dalam bentuk investasi. Sebagai contoh, investasi bergantung pada sebuah laboratorium di San Fransisco yang mengembangkan kulit dan bulu binatang dari  sel induk tanpa harus membunuh binatang. Contoh lainnya adalah koleksi sutera laba-laba, yang diambil dari Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) sel induk laba-laba. Singkat cerita, dalam pidato nya Miroslava menekankan bahwa masa depan industri pakaian dan fashion akan semakin berkembang dan pada saat yang sama dapat menghindari kerusakan lingkungan. Hal tersebut merupakan sebuah bukti konkret berkembang nya fungsi teknologi tinggi dalam industri. Sementara itu, saat ini, ramai diberitakan munculnya revolusi industri keempat.

Revolusi Industri 4.0 teridentifikasi sebagai tren pertukaran data dan otomatisasi teknologi manufaktur yang termasuk di dalamnya adalah sistem cyber-physical, internet of things (IoT), dan cloud computing. Konsep “smart factory” dibentuk dalam 4.0 sebagai aspek industri manufaktur masa depan. Konsep ini memperlihatkan bahwa dunia sedang menuju ke arah proses standardisasi teknologi dengan konsep “pabrik pintar” yang mana merupakan sebuah penopang dari revolusi industri keempat. Proses menjahit sebuah baju misalnya, yang mana mulai mengembangkan model arus produksi dengan menggunakan data-data jahitan dari pabrik fisik produksi pakaian. Sementara itu, penggunaan robot dalam prosesmenjahit produk tekstil juga secara nyata dapat terimplementasi, seperti produksi komposit. Unit jahit semi otomatis sudah digunakan untuk menggantikan beberapa tingkat proses produksi, seperti menjahit kantong celana. Saat ini, mesin manufaktur dan penelitian telah mengembangkan mekanisme baru yang lebih fleksibel guna mencapai fleksibilitas tinggi dalam melakukan desain produk dengan berbasis pada low-machine investment.

Pengembangan revolusi industri 4.0 secara signifikan berdampak pada negara maju, sebagai contohnya transformasi digital dalam industri mode. Dari Jerman -negara yang hampir tidak tersaingi reputasinya dalam industri manufaktur- datang sebuah ide industri 4.0. Pada April 2013, rekomendasi untuk menerapkan inisiatif strategi Industrie 4.0” dipersiapkan untuk Kementerian Pendidikan dan Penelitian Federal Jerman. Di Jerman, terdapat faktor-faktor kunci dalam menyesuaikan revolusi industri keempat untuk industri pakaian berdasarkan German Institutes for Textile and Fiber Research Denkendorf Center for Management Research. Spesifikasi produk individu (hybrid), proses dinamika, fleksibilitas produksi tingkat tinggi, rangkaian produksi ukuran kecil, perubahan demografis keseimbangan kehidupan kerja, produktivitas sumber daya dan efisiensi, bentuk baru pembuatan produk, dan model bisnis baru merupakan variabel utama dalam revolusi industri pakaian 4.0. Masing-masing dari faktor tersebut mengembangkan proses produksi dengan teknologi tinggi.

Sebuah ilustrasi di bawah ini menunjukkan bagaimana industri pakaian di Jerman menerapkan proses produksi yang dinamai dengan end-to-end digitan engineering –simulate, print, and go-

Gambar 1: End-to-End Digital Engineering: Simulate, Print and Go!

Sumber: German Institute for Textile and Fiber Research Denkendorf Center for Management Research

Disamping itu, Italia juga mulai mengembangkan industri pakaian digital, yang dapat dilihat dalam kreasi e-business yang dapat membuat dan mengukur baju dengan nama “bivolino.com”- pembuatan pakaian mewah dari Italia secara online- artinya pelanggan dapat menyesuaikan sendiri pakaian mereka di website. Hal ini pun dimulai dari pemilihan kain, desain, monogram, pengukuran, dan jika menginginkan spesifikasi khusus terdapat menu ekstra, dan terakhir terdapat menu review.

Pentingnya Negara Berkembang Bersiap Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Produsen produk tekstil didominasi oleh negara berkembang. Lina Stotz dan Gillian Kane pun membuat Facts on The Global Garment Industry dan menemukan bahwa produsen garmen terbesar di dunia yaitu Tiongkok, Bangladesh, dan India. Bahkan untuk sektor tekstil tertentu negara maju yang terkenal dengan tekstil yang berkualitas pun kalah dengan negara berkembang. Seperti pada HS 6203 yang terdiri dari Men’s or boys’ suits, ensembles, jackets, blazers, trousers, bib, and brace dan HS 6204 berupa Women’s or girls suits, ensembles, jackets, blazers, trousers, bib, and brace, mayoritas eksportirnya adalah Tiongkok, Bangladesh, Vietnam, termasuk Indonesia.

Industri tekstil yang sangat besar di negara berkembang pun menyerap banyak tenaga kerja. Di sisi lain sektor ini menjadi salah satu objek revolusi industri 4.0. Oleh karena itu, revolusi industri perlu mendapat perhatian serius dari negara berkembang, khususnya di sektor tekstil karena banyaknya tenaga kerja yang bergantung pada sektor ini. Negara-negara maju produsen tekstil seperti Jerman, Italia, dan Amerika Serikat pun telah mempersiapkan perusahaan-perusahaan tekstil mereka menghadapi perubahan ini. Inisiasi revolusi industri 4.0 telah dimulai sejak 2011, apabila negara berkembang produsen tekstil tidak ikut serta, maka berisiko mendapatkan dampak negatif dari revolusi industri 4.0. Seperti kalah bersaing dalam inovasi produk hingga kehilangan pasar.

Peluang Revolusi Industri 4.0 Sektor Tekstil

Revolusi industri 4.0 memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah produk manufaktur. Teknologi digital digunakan untuk melakukan produksi lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Produksi produk yang cepat pun diikuti dengan kualitas yang tinggi. Konsumen industri 4.0 pun menuntut produk premium dengan waktu produksi yang singkat. Penggunaan teknologi tinggi pun mempermudah target produksi tercapai, baik waktu produksi yang singkat, kualitas produk, dan berkelanjutan. Penggunaan teknologi juga akan memperluas inovasi produk dan efisiensi produksi.

Inovasi industri tekstil bukan hanya pada tahap produktifitas, akan tetapi perkembangan produk. Seperti pemanfaatan Internet of things (IoT) akan membantu industri tekstil untuk mengembangkan tshirt yang memiliki fungsi, seperti measuring calories burned, movement sensing, heart rate, dan lain-lain. Jadi suatu produk tidak hanya memenuhi kebutuhan pakaian saja, akan tetapi ada nilai tambah lain yang dapat diberikan oleh suatu produk. Nilai tambah tersebut dapat dicapai dengan isu kesehatan, preferensi pribadi konsumen atau customer engagement dalam proses desain produk, dan lain-lain.

Permintaan pasar akan produk tekstil dengan teknologi tinggi akan terus meningkat di masa depan. Negara berkembang, khususnya Indonesia pun perlu berbenah untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Kekhawatiran paling besar muncul terkait isu ketenagakerjaan, bahwa akan terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja sektor tekstil apabila ada automasi dan integrasi big data analisis. Maka sangat penting bagi tiap negara dan pelaku usaha untuk mempersiapkan strategi melakukan transformasi bisnis.

Saat ini industri di negara berkembang berada pada tahap mengamati perubahan industri di beberapa negara maju dari manufaktur tradisional menjadi penggunaan smart technology dalam sektor tekstil. Revolusi industri 4.0 bukan hanya menjadi tanggung jawab dari sektor swasta. Dukungan dari pemerintah pun dibutuhkan agar proses transformasi akan lebih mudah terjadi. Salah satu bentuknya yaitu masterplan revolusi industri 4.0. Seperti Italia yang memiliki rencana strategis menghadapi revolusi industri 4.0. The Italian Ministry of Economic Development mengeluarkan the Piano Nazionale Industria 4.0 atau Strategi Industri Nasional 4.0. Strategi tersebut mencakup strategi dan alat ukur untuk mendukung unit usaha di Italia. Serta mendukung investasi dalam membuat inovasi dan penelitian.

Upaya negara berkembang untuk mencapai revolusi industri 4.0 lebih berat di bandingkan negara maju. Perbedaan kualitas sumber daya manusia dan kesenjangan teknologi menjadi beberapa tantangan utamanya. Revolusi industri yang berbasis teknologi tinggi pun harus diiringi dengan kemampuan sumber daya manusia untuk memanfaatkannya. Serta machinery industry yang perlu ditingkatkan. 

Semua pihak memiliki peran penting dalam mempermudah proses revolusi industri, baik pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, tenaga kerja, hingga masyarakat umum selaku konsumen. Industri tekstil di negara berkembang didominasi oleh tenaga kerja yang bekerja secara konvensional, maka perlu ada persiapan perubahan struktur kerja dari konvensional menuju smart technology. Transfer teknologi baik melalui pengembangan research and development (RnD) dan pengembangan industri teknologi perlu didukung. Selain mempersiapkan infrastruktur teknologi, sektor swasta dan tenaga kerja perlu bersiap dengan perubahan budaya kerja.

Kesadaran negara berkembang akan revolusi industri 4.0 perlu di tingkatkan. Kesadaran tersebut perlu diikuti dengan praktik kebijakan dan implementasi agar tidak tertinggal dari negara lainnya. Seperti Vietnam yang pada tahun 2017 telah mulai melakukan konsolidasi antara elit pemerintah dengan pelaku industri untuk membuat kajian dan implementasi industri 4.0 di industrinya, salah satunya di sektor tekstil. Vietnam pun mulai mendukung pengembangan start-up yang akan berkontribusi pada pengembangan infrastruktur teknologi dan penggunaan internet. Indonesia juga saat ini sedang mengalami pengembangan pada industri berbasis start-up, maka perlu memanfaatkannya untuk mempercepat revolusi industri 4.0.

Jadi revolusi industri 4.0 di sektor tekstil merupakan sebuah kepastian dan perlu dihadapi oleh berbagai negara produsen tekstil. Sebagai produsen tekstil terbesar saat ini, negara berkembang perlu mengembangkan strategi dalam melaksanakan revolusi industri 4.0. Transformasi tersebut tidak hanya akan meningkatkan keuntungan, tapi juga keberlanjutan industri tersebut. Selanjutnya, sudah sampai mana industri tekstil Indonesia melakukan perubahan menjadi industri 4.0? Apa yang perlu dilakukan oleh stakeholder tekstil Indonesia untuk melakukan revolusi industri? Serta apa tantangan yang perlu diantisipasi agar terhindar dari masalah yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0? 

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Forbil Institute

Forbil Institute is a research institution, which connects business sectors and the government, as well as advocates correct policy for the competitiveness of Indonesia.

Archita Nur Fitrian

Research Assistant

Nitia Agustini KA

Researcher

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment