Pemanfaatan IoT untuk Kebijakan yang Lebih Baik

Pemanfaatan IoT untuk Kebijakan yang Lebih Baik

Share This Post:

Penggunaan IoT dapat meningkatkan nilai bagi pemerintah melalui pengumpulan data yang lebih efektif mengenai efektivitas pegawai negeri, program dan kebijakan (Eggers et al. 2015). IoT juga dapat membantu pemerintah dalam memberikan jasa berbasis real-time dan kondisi yang situation-specific (Eggers et al. 2015). Fokus penggunaan IoT di dalam pemerintahan masih cenderung kepada mengoptimalkan sistem yang ada dibandingkan mengidentifikasi seberapa cepat dan presisi informasi yang dapat dikumpulkan sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengambilan kebijakan. Terdapat tiga cara dimana IoT dapat membantu pemerintah yaitu meningkatkan pengumpulan data,  meningkatkan keamanan publik, dan membantu membangun ekosistem untuk menjamin ketahanan air bersih.

Pertama, berbagai perangkat yang terkoneksi dapat mengumpulkan data yang berguna sebagai masukan di dalam pengambilan kebijakan. Sebagai contoh, IoT dapat membantu dan diterapkan di bidang pendidikan. Seorang murid dapat memakai smartband canggih yang dapat membantu di dalam proses pembelajaran. Contoh yang sederhana, untuk menjaga konsentrasi siswa, guru dapat mengirim notifikasi getar sederhana kepada murid yang dianggap cukup mengganggu konsentrasi siswa lain, sehingga guru tersebut tidak perlu menegur muridnya secara langsung dan menghindari kejadian yang justru dapat meningkatkan ketidakpercayaan diri murid (Eggers et al. 2015).  Smartband canggih tersebut juga dapat mengirimkan data seperti perilaku siswa di kelas sehingga guru lebih memahami sang siswa (Eggers et al. 2015).  Platfrom tersebut dapat meningkatkan efektivitas dari pengumpulan berbagai data di ruang kelas sehingga guru dapat memberikan evaluasi dan memonitor selalu sistem pengajaran di kelas.

Kedua, meningkatkan keamanan publik melalui respon yang lebih cepat dan lebih baik di situasi yang darurat. Tidak dapat dipungkiri, terdapat asimetri dan gap informasi dalam merespon situasi yang darurat. Sebagai contoh di tahun 2011, hanya 15 persen dari Departemen unit pemadam kebakaran Los Angeles sukses memberikan tanggapan pemadaman dalam rentang waktu 60 detik (Eggers et al. 2015). Penggunaan IoT akan dapat mempercepat pengumpulan informasi dan menganalisis titik api mana yang harus segera dipadamkan. Tidak hanya itu, penggunaan sensor lingkungan dapat memberikan indikator awal yang menunjukan adanya kriminal dan secara otomatis dapat melaporkan ke polisi (Eggers et al. 2015). PredPol atau Palantir merupakan aplikasi yang digunakan untuk mendeteksi “hotspot” dimana tindak kriminal kemungkinan terjadi. Bahkan sensor tersebut dapat dikirim kepada pihak-pihak yang dapat membantu di situasi darurat. Sebagai contoh organisasi PulsePoint dapat memberitahu para volunter CPR terdekat dengan lokasi di situasi dimana terdapat pihak yang membutuhkan bantuan CPR. Penggunaan IoT dapat menyediakan real-time insight dan merubah paradigma dari penyelamatan menjadi pencegahan berdasarkan berbagai data yang dikumpulkan (Eggers et al. 2015).

Ketiga, IoT dapat membantu membangun ekosistem untuk menjamin lingkungan yang berkelanjutan di masa depan. IoT dapat menyelesaikan masalah untuk menemukan dimana bagian mesin yang harus diperbaiki agar mampu meningkatkan yield air. Sensor tersebut turut menyediakan informasi yang lebih presisi mengenai aliran air, bahkan untuk pemilik rumah yang tidak begitu memahami pipa maupun mesin yang berhubungan air. LeakSmart adalah salah satu contoh produk yang dapat membantu di dalam penyediaan air bersih. Dengan kombinasi dari sensor dan aktuator yang sederhana, LeakSmart dapat mendeteksi kapan pipa harus mengeluarkan air dan tidak. IoT juga dapat menyediakan data mengenai tingkat konsumsi air yang lebih akurat. Pemerintah East Bay (California) bekerjasama dengan WaterSmart mampu menghemat 5 persen konsumsi air dengan memberikan akses kepada 10.000 pelanggan yang menunjukan informasi mengenai konservasi air. Melalui IoT, masyarakat dapat memahami bagaimana pola konsumsi dari air dan data tersebut sangat berharga bagi pengambil kebijakan dalam menyusun kebijakan yang mampu menjaga ketahanan air (Eggers et al. 2015).

Tingkat konsumsi air tertinggi digunakan oleh sektor pertanian dan perkotaan. Lebih dari 7 persen konsumsi air digunakan oleh sektor pertanian (Shiklomanov, 1999). Sebagai dampaknya,  sektor pertanian memiliki risiko kelebihan air yang jauh lebih tinggi dibandingkan kekeringan (Eggers et al. 2015). IoT melalui peran dari sensor dapat mengatasi masalah ini. Sensor dengan algoritma tingkat lanjut ini dapat mengukur kelembaban tanah, tingkat panas dan bahkan tingkat kemiringan sehingga dapat menyediakan informasi yang lebih tepat dalam mengukur seberapa banyak air yang dibutuhkan. Jika pemerintah menanamkan sensor ini di dalam pertanian, pengambilan kebijakan untuk sektor pertanian akan lebih baik, tepat dan efisien sehingga kesejahteraan dari petani dapat turut meningkat.

IoT juga mampu meningkatkan kesehatan publik melalui udara yang lebih bersih (WEF, 2018). Di Oakland, startup berbasis lingkungan bernama Aclima bekerja sama dengan Google EDF dan peneliti dan Universiy of Texas menciptakan peta blok dari polusi udara dengan menggunakan kendaraan Google Street View yang membawa sensor spesial (WEF, 2018). Drayson Technologies telah melakukan ujicoba sensor di kota London yang didistribusikan di sepeda dan mobil berbahan bakar baterai. Sensor tersebut berguna untuk mentransmisikan data ke smartphone melalui Bluetooth, sehingga Drayson mampu menciptakan peta yang real-time dalam menunjukan tingkat polusi di udara di Kota.

Menurut World Economic Forum (2018) kota dapat menjadi inkubator utama dari penerapan IoT yang mampu menghasilkan kehidupan urban yang lebih cepat, sistem transportasi yang lebih nyaman, dan bangunan yang energi-efisien. Di Barcelona WiFI dan jaringan informasi kota telah terkoneksi dengan sensor, software dan platfrom data analitik yang mampu menghasilkan kota yang dapat menyediakan teknologi smart water, lampu jalanan yang terautomasi, remote kontrol untuk irigasi di taman, sistem on-demand pengambilan sampah, rute digital bus dan smart parking meters (WEF, 2018). Teknologi IoT mampu berdampak kepada penurunan tingkat kemacetan, polisi dan penggunaan energi, air dan penerangan. Dengan meminimalisir penggunaan energi, IoT tentu berdampak terhadap pembangunan yang berkelanjutan.

Penggunaan IoT akan berdampak baik terhadap kehidupan. Pemerintah selaku pengambil kebijakan dapat menjadi inisiator utama di dalam penerapan IoT. Melalui penerapan IoT, pemerintah menunjukan komitmennya terhadap peningkatan kualitas layanan publik beserta kualitas hidup dari masyarakat. Tidak hanya itu, wujud komitmen terhadap pembangunan yang berkelanjutan ditunjukan melalui penerapan dari IoT tersebut.

Share This Post:

Author(s)

Related Articles:

Leave a Comment

Please Login to Comment