Ekspor Udang Indonesia di Masa Industri 4.0

Ekspor Udang Indonesia di Masa Industri 4.0

Share This Post:

Gambar 1 Tujuan Ekspor Krustasea Indonesia, 2016*

Sumber: ITC Trademap, 2016

Perdagangan dunia dapat meningkat dengan adanya revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 adalah masa dimana teknologi hampir digunakan di segala lini kehidupan manusia. Industri 4.0 dapat berperan dalam menciptakan produk-produk baru dan selanjutnya meningkatkan ekspor Indonesia. Salah satu unggulan produk ekspor Indonesia adalah ekspor udang.

Indonesia mengekspor sebagian besar produk udangnya ke Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa, meskipun volumenya berubah dari waktu ke waktu. Sebelumnya, AS adalah negara pengimpor udang Indonesia terbesar ketiga, yang dilampaui oleh Jepang dan UE secara berurutan. Saat ini, 63% dari udang Indonesia dijual ke pasar AS, sejumlah 20% masuk ke pasar Jepang, dan 13% ke pasar UE.

Figure 2 Pertumbuhan Volume Ekspor Krustasea Indonesia, 2012-2016*

Sumber: ITC Trademap, 2017

Japan

Ekspor udang Indonesia ke Jepang mulai menurun sejak 2013. Antara tahun 2012 dan 2013, pertumbuhannnya mencapai 3% dari 32.525 ton menjadi 32.952 ton. Namun, ditahun 2014 Indonesia mengalami penurunan ekspor udang terbesar, sebesar 15%, yang kemudian berlangsung pada tahun-tahun setelahnya meskipun dengan angka yang lebih kecil.

Ekspor yang rendah ke Jepang tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga negara produsen udang lainnya seperti Rusia, Vietnam, dan India. Berdasarkan ITC Trademap, ekspor udang Rusia ke Jepang menurun dari 2.739.980 ton menjadi 2.442.087 ton di tahun 2016. Pada tahun yang sama, ekspor Vietnam juga melemah, dari 416.877 ton menjadi 399.020 ton. Hal yang sama juga dialami India yang volume ekspornya menurun dari 449.998 ton menjadi 349.636 ton di tahun yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan pemasokan udang Indonesia ke pasar Jepang bukan dikarenakan oleh penurunan pangsa pasar Indonesia semata, karena negara pengekspor udang lainnya juga mengalami hal yang sama.

Merujuk pada hubungan antara perdagangan internasional dan nilai tukar mata uang, terungkap bahwa penurunan impor udang Jepang disebabkan oleh depresiasi Yen. Di tahun 2013, untuk pertama kalinya setelah April 2009, nilai tukar Yen jatuh 14% terhadap dolar AS. Hal ini merupakan permintaan Perdana Menteri Shinzo Abe kepada Bank of Japan yang bertujuan untuk menstimulasi ekonomi nasional negara tersebut. Sebagai konsekuensinya, harga udang impor menjadi naik. Contohnya, terdapat 15-20% kenaikan harga udang beku mentah yang diimpor. Hal ini terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi yang mengakibatkan keengganan konsumer untuk membeli udang yang harganya naik tersebut. Tidak mengherankan bahwa situasi ini terjadi hingga 2016, karena nilai tukar Yen baru saja mengalami pemulihan di awal tahun 2017.

Uni Eropa

Sedikit lebih baik daripada di Jepang, udang Indonesia di pasar UE mengalami pertumbuhan antara 2012 dan 2014, meskipun juga terdapat penurunan setelahnya. Pada tahun 2012, Indonesia mengekspor 6.269 ton udang ke UE, yang kemudian volumenya naik menjadi 6.597 ton di 2013, dan 7.296 ton di tahun 2014. Namun, angka ini mengalami penurunan menjadi 5.798 ton di tahun 2016.

Menurut Food Agriculture Organisation (FAO), UE pada tahun 2014 mengimpor lebih banyak udang murah dari Ekuador, India, dan Vietnam karena persediaan negara-negara tersebut melimpah akan udang vannamei. Dibandingkan dengan negara-negara ini, Indonesia memproduksi lebih sedikit udang vannamei. Produksi Indonesia jatuh dari 442.380 ton menjadi 411.453 ton selama 2014 dan 2015. Secara keseluruhan, ITC Trademap mencatat bahwa ekspor udang Indonesia ke dunia menurun dari 160.939 ton di 2014 menjadi 152.677 ton di 2015.

Di tahun 2002, UE mengadopsi sistem Rapid Alert System for Food and Feeds (RASFF). Sistem ini adalah tiga step notifikasi (pemberitahuan peringatan, pemberitahuan informasi, dan pemberitahuan penolakan di perbatasan) untuk mengumumkan secara langsung maupun tidak langsung mengenai bahaya makanan yang dikonsumsi di UE.

Berdasarkan data dari Komisi Eropa RASFF Portal, terdapat satu notifikasi untuk Indonesia dari UE, secara khususnya Inggris, pada temuan salmonella dalam udang beku yang sudah dimasak di tahun 2014. Hal ini merupakan kemajuan, dimana data RASFF menyebutkan bahwa, terdapat rata-rata tujuh notifikasi terhadap Indonesia dari UE, selama periode 2002-2010. Untuk itu, standar UE dan kualitas udang Indoensia bukan menjadi alasan dibalik menurunnya kuantitas ekspor udang Indonesia ke UE. Penurunan ini, sebaliknya, disebabkan oleh berkurangnya produksi udang vannamei.

Amerika Serikat

Data mengenai pertumbuhan ekspor udang di atas mengilustrasikan bahwa pertumbuhan paling besar terjadi di pasar AS. Pada tahun 2012, kuantitas udang Indonesia yang dikirim ke AS mengalami pertumbuhan 5%. Pertumbuhan terbesar terjadi antara 2013 dan 2014 sebanyak 33%. Hal ini adalah bukti bahwa Indoensia memiliki kemampuan untuk membuka akses yang lebih besar pada pasar AS, ketika persediaan udang dari negara lain menurun tajam akibat wabah Early Mortality Syndrome (EMS). Pada periode ini, diperkirakan bahwa AS mengimpor 50% dari total ekspor udang Indonesia ke dunia.

Antara 2014 dan 2015, presentase pertumbuhan ekspor udang Indonesia turun kian drastis pada angka negatif 5%. Meskipun begitu, kejadian ini tidak perlu diinterpretasikan sebagai penolakan AS terhadap udang Indonesia. Seperti yang dilaporkan pada 2013, Indonesia dan Thailand adalah dua negara yang dikecualikan dari pajak impor ke pasar AS. Sebaliknya, produk udang dari India, Ekuador, Malaysia, Vietnam, dan China dikenakan pajak impor karena AS menemukan adanya subsidi ilegal yang diberikan kepada produsen udang di negara-negara tersebut. Merujuk pada regulasi WTO, sebuah negara tidak diperkenankan memberikan subsidi kepada produsen domestik karena hal tersebut dapat membuat produsen dari negara lain kalah dalam kompetisi yang ada. Untuk itu, penurunan ekspor udang Indonesia ke AS antara 2014 dan 2015 tidak dikarenakan oleh penurunan pangsa pasar. Sebaliknya, penting adanya untuk mempertimbangkan bahwa volume ekspor udang Indonesia ke dunia menurun antara 2014 dan 2015, dari 137.722961 ton menjadi 136.835.624 ton, seperti yang dilaporkan ITC Trademap.

Selain itu, Indonesia juga diuntungkan oleh wabah EMS yang menjalar di Thailand. Wabah yang pertama kali ditemukan di China ini kemudian mewabah di Thailand pada tahun 2011. Sebagai akibatnya, produksi udang Thailand menurun. Negara ini kehilangan posisinya sebagai negara produsen udang dari hasil pertambakan terbesar di dunia karena importir yang biasanya memasok udang dari Thailand mulai mencari sumber produksi udang dari negara lain. ITC Trademap mendata bahwa, antara 2013 dan 2014, pertumbuhan impor udang dari Thailand ke pasar AS adalah negative 32%. Secara bersamaan, ekspor dari Indonesia ke US tumbuh sebesar 33%, menunjukkan bahwa Indonesia berhasil memanfaatkan kesempatan yang ada. Sebagai hasilnya, Indonesia menguasai pasar udang terbesar di AS, dibandingkan dengan eksportir lain seperti India dan Ekuador.

Pasar impor Jepang, UE, dan AS sangat berbeda. Saat ini, udang Indonesia kurang kompetitif di pasar UE, dikarenakan sedikitnya produksi udang vannamei. Dengan demikian, Indonesia mengalami kekalahan dibanding Ekuador, India, dan Vietnam yang lebih menguasai pasar UE. Di Jepang, impor udang kurang diminati dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun begitu, terdapat harapan bahwa pemulihan mata uang Yen dapat membuat masyarakat Jepang tertarik mengimpor lebih banyak lagi udang. Pasar yang paling kompetitif bagi Indonesia adalah AS, karena Indonesia diuntungkan oleh faktor-faktor seperti wabah EMS dan dikecualikan dari pajak impor. Untuk itu, meskipun dalam beberapa periode pertumbuhan ekspor udang Indonesia mengalami penurunan, tidak berarti bahwa Indonesia kehilangan pangsa pasarnya. . Diharapkan kedepan hasil ekspor udang Indonesia dapat meningkat dengan adanya peran teknologi. Industri 4.0 harus dimaksimalkan agar ekspor udang Indonesia dapat menghasilkan produk-produk yang lebih beragam dan selanjutnya mampu berkontribusi dalam meningkatkan net ekspor Indonesia.

*Karena data tentang perdagangan udang terbatas, yang disajikan di sini adalah data tentang perdagangan krustasea. Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia, udang merupakan produk krustasea terbesar yang diekspor oleh Indonesi, sehingga perdagangan krustasea secara luas mewakili perdagangan udang.

Share This Post:

Author(s)

Tania Delavita Malik

Senior Researcher

Related Articles:

Leave a Comment

Please Login to Comment