Mengenal dan Memahami Ekspor Hasil Hutan di Masa Industri 4.0

Mengenal dan Memahami Ekspor Hasil Hutan di Masa Industri 4.0

Share This Post:

 A. Latar Belakang

Industri 4.0 merupakan istilah yang akhir-akhir ini cukup sering dibicarakan. Teknologi dan digitalisasi mulai diterapkan di dalam berbagai industri. Adanya inovasi dan teknologi akan meningkatkan produktivtias dari Industri Indonesia. Industi hasil hutan juga terkena dampak dari Industri 4.0. Produk hasil hutan memegang peranan penting bagi kinerja perdagangan Indonesia Indonesia. Apalagi, saat ini Indonesia telah memegang lisensi Forest Law Enforcement, Governance and Trade UE (FLEGT). Lisensi ini merupakan hasil dari Perjanjian Kemitraan Sukarela (Voluntary Partnership Agreement), di mana Indonesia dan UE telah bernegosiasi untuk mengatasi pembalakan liar, memperbaiki tata kelola hutan, dan mempromosikan perdagangan produk kayu legal. Berkat lisesnsi tersebut, Indonesia menjadi negara pertama yang menerbitkan lisensi FLEGT terhadap produk kayu yang diekspor ke Uni Eropa. Dengan memenuhi ketentuan dari FLEGT dan SVLK, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan produk kayu sampai ke Uni Eropa. Sejak dimulainya Forest Law Enforcement, Governance and Trade UE (FLEGT), Indonesia telah mengirimkan produk kayu bersertifikat legal senilai lebih dari 1 miliar Euro (lebih dari Rp 16 triliun) ke Uni Eropa. Ekspor produk hasil hutan dibagi menjadi tiga produk utama. Tiga produk utama tersebut adalah Furniture, kayu dan produk kayu, serta pulp dan dan kertas. Nilai ekspor tertinggi diraih oleh produk pulp dan kertas, diikuti oleh komoditas kayu dan produk kayu dan selanjutnya adalah komoditas furniture. Nilai ekspor komoditas pulp dan kertas di tahun 2016 mencapai 3,7 Miliar US$, ekspor komoditas kayu dan produk kayu mencapai 3,19 Miliar US$ dan ekspor komoditas furniture sebesar 1,60 Miliar US$.

Bukan berarti industri hasil hutan tidak memiliki tantangan, khususnya industri pulp dan kertas. Tantangan tersebut, menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) meminta pemerintah untuk dapat menghilangkan berbagai kendala yang menghambat industri pulp dan kertas di Indonesia. Ketua APKI Aryan Warga Dalam mengatakan, kendala yang dihadapi oleh industri pulp dan kertas adalah bahan baku, terkait harga gas industri, dan juga Peraturan Pemerintah No 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida menyebut dua tantangan pertama yang dihadapi anggotanya adalah kondisi pasar dan peraturan di industri tersebut yang semakin ketat. Perubahan perilaku konsumen beserta perkembangan industri digital, menjadi tantangan berikutnya bagi industri pulp dan kertas.

Mini ebook ini bertujuan untuk mengenal lebih dalam bagaimana industri hasil hutan, khususnya industri pulp dan kertas. Kinerja perdagangan dari industri pulp dan kertas juga patut diperhatikan, mengingat ekspor dari produk hasil hutan juga turut menyumbang devisa pada Indonesia. Tantangan dan hambatan bagi industri hasil hutan menjadi hal penting yang juga harus dianalisis, sehingga industri hasil hutan Indonesia semakin kompetitif dan siap bersaing di pasar global.

Metodologi yang digunakan di dalam ini mini ebook ini adalah trade competitive diagnostic dari bank dunia. Trade competitive diagnostic digunakan untuk melihat kinerja perdagangan suatu negara. Kinerja perdagangan tersebut dibagi di dalam empat margin yang meliputi:

  1. Intensive Margin
  2. Extensive Margin
  3. Quality Margin
  4. Sustainability Margin

Data yang digunakan di dalam mini ebook ini bersumber dari ITC International Trade Centre, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan UN COMTRADE. Data tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi Stata 14.

B. Isi

1. Outlook Ekspor Produk Hasil Hutan: Analisis Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) (Intensive Margin)

Hutan menyediakan banyak manfat bagi kehidupan manusia, sebagai pelindung ekologi dan lingkungan. Manfaatnya hutan tidak terbatas itu, namun hutan juga memberikan manfaat ekonomi yang berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja dan perdagangan. Sektor hasil hutan juga menawarkan berbagai produk kayu dan produk bukan kayu, seperti rotan dan bambu.

Description: http://forbil.org/manage/assets/filemanager/userfiles/Forest_Product.png Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di Asia dan memiliki lebih dari 1,9 juta kilometer persegi. Berdasar hal tersebut, produk hasil hutan menjadi komoditas ekspor primer selain sawit, karet dan kopi. Klasifikasi produk hasil hutan yang diekspor Indonesia mencakup kayu, pulp dan kertas dengan kode HS 44, 47 dan 48, beserta kayu dan rotan berdasar furnitur yang diklasifikan pada kode 6 digit di HS 94. Nilai ekspor dari produk kayu dan artikel kayu (HS 44) memiliki nilai tertinggi diantara komoditas lainnya, meskipun nilai ekspornya sempat terhantam oleh krisis keuangan asia di tahun 1998. Produk ekspor pulp (HS 48) memiliki tren yang meningkat dan tetap tinggi sampai diakhir tahun 2013. Krisis keuangan global di tahun 2008 tentu berdampak kepada nilai ekspor dari kedua komoditas tersebut.

Sumber: UN COMTRADE, diolah

Pemain utama dari produk hasil hutan di pasar global didominasi oleh sembilan eksportir utama, yaitu Kanada, USA, Swedia, Finlandia, Jerman, Rusia, Brazil, Australia dan Chile. Perlu diperhatikan bahwa masing-masing negara memiliki dominasi di masing-masing sektor. Sebagai contoh, Kanada memiliki proporsi 23 persen pada ekspor gergaji kayu, China berkontribusi 17 persen pada ekspor panel berbasis kayu dan ekspor pulp Brazil berkontribusi 21 persen total ekspor kertas dunia. Indonesia sendiri sudah berkontribusi 6 persen pada perdagangan pulp dan 4 persen pada perdagangan papan tulis. Kinerja perdagangan ekspor hasil hutan Indonesia dapat diukur melalui revealed symmetric comparative advantage (RSCA). RSCA merupakan modifikasi dari indeks Balassa yang digunakan untuk melihat ekspor komoditas negara tersebut memiliki keunggulan komparatif atau tidak. Perbedaan utama dari RSCA dan indeks balassa adalah keunggulan dari RSCA yang memberikan nilai symmetric, artinya nilainya berkisar diantara -1 sampai 1. Jika nilai RSCA berada dibawah 0 atau negatif, maka komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif dan jika nilai RSCA berada diatas 0 atau positif, maka komoditas tersebut memiliki keunggulan komparatif. Suatu komoditas yang memiliki keunggulan komparatif menunjukan bahwa biaya kesempatan untuk memproduksi barang tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lainnya. Berikut adalah nilai RSCA dari top eksportir hasil hutan di dunia, termasuk Indonesia

Sumber: UN COMTRADE, diolah penulis

Finlandia menjadi negara dengan nilai RSCA tertinggi, sebagai hasil dari ekspor industri pulp yang begitu kuat. Posisi kedua ditempati oleh Swedia, diikuti oleh Chile dan selanjutnya baru Indonesia di posisi empat. Indonesia juga memiliki nilai RSCA yang positif, sehingga hal tersebut menunjukan bahwa ekspor produk hasil hutan Indonesia memiliki keunggulan komparatif.

Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan yang bertujuan untuk memanfaatkan industri hasil hutan. Misalnya, Permendag No.35 / 2011, yang mengatur ekspor rotan yang belum diolah untuk menghidupkan kembali industri rotan dalam negeri. Namun, dengan mempertimbangkan fakta bahwa kebijakan tersebut tidak meraih hasil yang diharapkan, maka akan lebih menguntungkan jika pemerintah melakukan beberapa pelarangan ekspor rotan mentah yang didukung oleh kebijakan yang berpihak kepada pada UKM. Hal tersebut diharapkan mampu untuk memberikan nilai lebih kepada UKM furnitur rotan. Tidak dapat dipungkiri bahwa pelarangan ekspor dapat menciptakan insentif yang lebih besar bagi beberapa pihak untuk melakukan tindakan ilegal. Sehingga penegakkan undang-undang juga diperlukan agar isu-isu seperti ekspor ilegal mampu diberantas secara maksimal

2. Mengenal Diversifikasi Ekspor Hasil Hutan Indonesia (Extensive Margin)

Ekspor produk hasil hutan menjadi salah satu dari 10 komoditas ekspor utama di Indonesia. Sejak tahun 2012 sampai tahun 2014 ekspor produk hasil hutan menunjukan peningkatan. Namun, sejak tahun 2014, ekspor produk hasil hutan terus menurun hingga tahun 2016. Tren ekspor produk hasil hutan dari  tahun 2012 sampai tahun 2016 menunjukan penurunan sebesar 0,63 persen. Nilai ekspor hasil hutan di tahun 2012 mencapai 8,7 Miliar US$ dan terus meningkat hingga mencapai 9,2 Miliar US$ di tahun 2014. Namun, sejak tahun 2014, nilai ekspor produk hasil hutan terus menurun dan di tahun 2016 hanya mencapai 8,54 Miliar US$.

Sumber: diolah penulis (Kementerian Perdagangan, 2017)

Ekspor produk hasil hutan dibagi menjadi tiga produk utama. Tiga produk utama tersebut adalah Furniture, kayu dan produk kayu, serta pulp dan dan kertas. Nilai ekspor tertinggi diraih oleh produk pulp dan kertas, diikuti oleh komoditas kayu dan produk kayu dan selanjutnya adalah komoditas furniture. Nilai ekspor komoditas pulp dan kertas di tahun 2016 mencapai 3,7 Miliar US$, ekspor komoditas kayu dan produk kayu mencapai 3,19 Miliar US$ dan ekspor komoditas furniture sebesar 1,60 Miliar US$. Ekspor dari industri kertas merupakan ekspor dengan dokumen V-Legal, yaitu Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) maupun Lisensi FLEGT (Bisnis.com, 2017).  Berikut adalah nilai dan pertumbuhan ekspor dari tiga komoditas utama produk hasil hutan Indonesia:

Sumber: diolah penulis (Kementerian Perdagangan, 2017)

Dari grafik diatas terlihat bahwa pertumbuhan nilai ekspor dari ketiga produk tersebut menunjukan tren yang menurun. Penurunan pertumbuhan nilai ekspor tertinggi terdapat di komoditas pulp and kertas. Pada tahun 2016, nilai ekspor pulp dan kertas mengalami pertumbuhan negatif sebesar 6,19 persen y-o-y. Penurunan pertumbuhan ekspor tertinggi kedua adalah komoditas furniture. Di tahun 2016, ekspor komoditas furniture mengalami pertumbuhan negatif sebesar 5,9 persen y-o-y.

Industri utama dari produk hasil hutan adalah industri kertas dan barang dari kertas. Industri kertas dan barang dari kertas termasuk di dalam 10 besar ekspor hasil industri di Indonesia pada tahun 2016, tepatnya berada di urutan ke 9. Nilai ekspor Industri kertas dan barang dari kertas di tahun 2016 mencapai 5,06 Miliar US$.

Sumber: diolah penulis (Kementerian Perindustrian, 2017)

Sayangnya, nilai dari ekspor industri kertas dan barang dari kertas menunjukan tren yang menurun. Peningkatan nilai ekspor hanya meningkat di tahun 2013. Namun, sejak periode tersebut, nilai dari ekspor industri kertas dan barang dari kertas terus menurun. Hal tersebut tentu sangat disayangkan industri kertas dan barang dari kertas.

Sumber: diolah penulis (Kementerian Perindustrian, 2017)

Penurunan nilai ekspor industri kertas dan barang disebabkan oleh penurunan nilai ekspor dari industri kertas lainnya. Terdapat delapan komoditas utama dari industri kertas dan barang dari kertas yang meliputi kertas lainnya, kertas tissue, bubur kertas (pulp), kertas khusus, barang dari kertas dan papan kertas lainnya, kertas dan papan kertas bergelombang, kemasan dan kotak dari kertas dan karton, beserta kertas budaya. Industri kertas lainnya adalah penyumbang terbesar di dalam total ekspor dari industri kertas dan barang dari kertas. Nilai ekspor industri kertas lainnya pada tahun 2012 mencapai 2,1 Miliar US$ dan turun terus hingga mencapai 1,81 Miliar US$ di tahun 2016. Perlambatan dari industri pulp dan kertas adalah karena peran dari media digital (Bisnis Indonesia). Media digital tentu menjadi substitusi utama dari media kertas, sebagai contoh di zaman sekarang membaca koran tidak hanya melalui koran fisik, namun dapat menggunakan media digital yang berasal dari internet. Untuk meminimalisir dampak negatif dari penurunan ekspor dapat melalui diversifikasi. Ketika ekspor suatu industri terdiversifikasi, maka ketika salah satu komoditas mengalami penurunan tidak akan berdampak besar terhadap total ekspor dari industri tersebut. Konsentrasi dari ekspor suatu industri dapat diukur melalui indeks herfindahl.

Sumber: diolah penulis (Kementerian Perindustrian, 2017)

Konsentrasi Ekspor Industri Kertas dan Barang dari Kertas

Konsentrasi ekspor dapat diukur melalui indeks herfindahl. Indeks herfindahl memiliki nilai yang berkisar antara 0 sampai tidak terhingga. Apabila nilai dari indeks herfindahl semakin mendekati 0, maka ekspor dari komoditas tersebut semakin terdiversifikasi. Data yang digunakan untk mengukur konsentrasi ekspor industri kertas dan barang dari kertas berasal dari Kementerian Perindustrian. Periode data yang digunakan berasal dari tahun 2012 sampai tahun 2016.

Sumber: diolah penulis (Kementerian Perindustrian, 2017)

Dari grafik diatas terlihat bahwa nilai indeks herfindahl mengalami penurunan yang cukup drastis dari tahun 2012 menuju 2013 atau turun sebesar 4,25 persen. Namun, semenjak tahun tersebut, tren dari indeks herfindahl mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 nilai indeks herfindahl meningkat sebesar 3,86 persen y-o-y. Peningkatan nilai indeks herfindahl  menunjukan bahwa terjadi konsentrasi ekspor dari industri kertas dan barang dari kertas. Tentunya wajar ketika penurunan nilai ekspor dari kertas lainnya menyebabkan penurunan yang signifikan pada ekspor industri kertas dan barang dari kertas. Terlepas dari penurunan tersebut, industri kertas Indonesia sudah diperhitungkan di dunia.

Saat ini industri kertas telah mengekspor hasil produksinya ke 90 negara di dunia. Industri kertas Indonesia juga berada di peringkat pertama di kawasan ASEAN (Binus, 2016). Posisi ini tentu harus dipertahankan sehingga Indonesia mampu lebih bersaing dan menjadi produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan lahan yang luas dapat menjadi peluang untuk memaksimalkan industri pulp dan kertas. Isu utama dari industri pulp dan kertas adalah isu lingkungan (Binus, 2016). Pemerintah perlu mendorong kebijakan yang kondusif, dari tingkat hulu (hutan) sampai ke tingkat hilir (industri) sehingga mampu tetap menjaga kelestarian hutan. Berita baiknya, Indonesia menjadi negara pertama yang mampu mengekspor produk hasil hutan dibawah lisensi Forest Law Enforcement, Governance and Trade Action Plan (FLEGT) (Frank, 2016). Artinya, produk hasil hutan Indonesia sudah mampu memenuhi berbagai ketentuan yang strict  dari EU Timber Regulation yang fokus dalam mencegah masuknya produk kayu ilegal ke dalam EU.

3. Menuju Lima Besar Ekspor Pulp dan Kertas Dunia (Quality Margin)

Ekspor hasil hutan memiliki peran dalam perekonomian Indonesia. Industri turunan dari hasil hutan Indonesia adalah Industri Pulp dan Kertas. Data tahun 2015 menunjukkan, kontribusi ekspor pulp senilai USD 1,7 miliar, sementara ekspor kertas USD 3,5 miliar (Merdeka, 2017). Industri pulp dan kertas mampu membuka lapangan pekerjaan sebanyak 260.000 orang tenaga kerja langsung, dan tenaga kerja tak langsung sebanyak 1,1 juta orang (Merdeka, 2017).. Industri Pulp dan Kertas diprediksi mampu menduduki peringkat kelima didunia karena memiliki keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif yang dimiliki Indonesia meliputi letak geografis, potensi luas izin hutan tanaman industri (HTI), dan kecepatan tumbuh pohon sebagai sumber bahan baku yang terbarukan (Okezone, 2017). Jumlah perusahaan di industri pulp dan kertas belum cukup banyak. Di Indonesia, jumlah industri pulp dan kertas nasional hanya mencapai 84 perusahaan. Kapasitas industri pulp nasional yang telah terpasang mencapai 7,93 juta ton pulp /tahun, sedangkan kapasitas industri kertas nasional mencapai 12,98 juta ton kertas/tahun (Okezone, 2017). Hingga September 2016, industri pulp dan kertas telah menyumbang devisa sevesar USD 3,79 miliar dan menduduki peringkat ketujuh sebagai penyumbang devisa terbesar dari sektor nonmigas.

Namun, bukan berarti industri pulp dan kertas tanpa masalah. Kementerian perindustrian telah meminta industri kertas untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku kertas dengan memaksimalkan kertas bekas dalam negeri. Para produsen kertas beranggapan bahwa bahan baku kertas bekas lokal tidak begitu bagus. Kebanyakan masyarakat menggunakan menggunakan kertas yang sudah tak terpakai sebagai bungkus makanan dan sisa dari pemakaian ini tidak bagus jika digunakan sebagai bahan baku waste paper (Bisnis Indonesia). Kualitas dari bahan baku ini tentu mempengaruhi kinerja perdagangan Industri kertas. Industri pulp dan kertas sendiri masih bergantung kepada ekspor. “Tahun ini tahun bagus [untuk industri pulp dan kertas nasional], walaupun dalam negeri stagnan, pasar ekspor masih terbuka,” ucap Dewan Pakar Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Rusli Tan kepada kepada Bisnis.com, Minggu (6/8/2017).

Kinerja perdagangan hasil hutan Indonesia dapat digambarkan melalui ekspor HS 2 digit kode 48. Ekspor HS 2 Digit kode 48 (Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard) adalah komoditas yang dapat merepresentasikan ekspor hasil hutan. Pada komoditas tersebut, di tahun 2016 nilai ekspor Indonesia berada di urutan ke-14 di dunia dengan nilai 3,4 Miliar US$.

Sumber: International Trade Centre, 2017 diolah

Komoditas lain yang menunjukan turunan hasil ekspor hasil hutan adalah ekspor dengan kode HS 47 (Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) paper or paperboard). Pada produk tersebut, Indonesia berada di peringkat yang lebih baik yaitu di peringkat ke 7 dunia. Nilai ekspor produk HS 47 di tahun 2016 telah mencapai 1,5 Miliar US$.

Sumber: International Trade Centre, 2017 diolah

Baik dalam komoditas HS 48 dan HS 47, Indonesia belum mampu berada di dalam top lima besar eksportir dunia. Padahal Indonesia memiliki keunggulan dalam industri pulp dan kertas. Pabrik-pabrik kertas di Indonesia umumnya telah terintegrasi dengan pabrik pulp, sehingga bisa menghemat biaya dari sisi energi hingga mencapai 20 persen (Bisnis,com, 2017). Pasalnya, apabila pabrik kertas tidak memiliki pabrik pulp terintegrasi, biaya produksi akan semakin tinggi. Apalagi, kenaikan harga kertas tidak setara dengan kenaikan harga pulp dan ongkos produksinya. Jika dari sisi produksi tidak ada masalah, apakah masalahnya berada di sisi kualitas?

Kualitas ekspor suatu komoditas dapat melalui nilai indeks PRODY yang dikembangkan oleh Hausmann et al. (2007). PRODY mengukur “revealed” technology content suatu komoditas sehingga nilai PRODY dapat merepresentasikan tingkat pendapatan yang diraih dari produk tersebut. Berikut adalah nilai PRODY dari 4 besar eksportir komoditas HS 47 (Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) paper or paperboard) plus Indonesia.

Sumber: International Trade Centre, 2017 diolah

Dalam ekspor komoditas HS 47, Indonesia memang masih berada di peringkat 8 dunia. Indonesia berada dibawah Amerika, Kanada, Brazil, Chile, Swedia, Finlandia dan Belanda. Hasil perhitungan indeks PRODY menunjukan bahwa nilai PRODY Indonesia berada di yang paling rendah jika dibandingkan dengan Amerika, Kanada, Swedia. Namun, sejak tahun 2012 sampai tahun 2016 nilai dari indeks PRODY menunjukan tren yang meningkat, walaupun nilai PRODY sempat menurun di periode 2013-2014. Wajar jika Indonesia belum mampu menjadi top eksportir dalam komoditas pulp dan kertas karena kualitasnya masih belum terlalu baik jika dibandingkan dengan top eksportir pulp di dunia. Industri pulp dan kertas masih menghadapi berbagai tantangan baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Liana Bratasida mengatakan bahwa tantangan utama bagi industri pulp dan kertas adalah kondisi pasar dan peraturan yang semakin ketat, perkembangan industri digital dan perubahan perilaku konsumen (Liputan 6, 2017). Industri pulp dan kertas juga menghadapi berbagai hambatan seperti praktik proteksionisme perdagangan, kecendurungan meningkatnya tariff, trade remedies dan non-tariff barriers serta regulasi kebijakan dan sentimen negatif (Liputan 6, 2017). Biaya produksi untuk pulp dan kertas di Indonesia juga relatif tinggi karena harga gas yang mahal (Indonesia Investments, 2017). Perusahaan lain di ASEAN hanya membayar dibawa $6 per million British thermal unit (mmbtu), sedangkan perusahaan pulp dan kertas Indonesia harus membayar dengan kisaran USD $9 - $11 per mmbtu. Biaya inspeksi impor limbah juga mesti harus ditanggung pelaku industri dan mencapai US$60 per kontainer (Bisnis Indonesia).

Dapat disimpulkan bahwa kualitas dari ekspor pulp dan kertas Indonesia masih kalah dengan negara-negara lain di dunia. Berbagai permasalahan seperti hambatan perdagangan, biaya produksi dan regulasi turut berpengaruh terhadap nilai dari ekspor industri pulp dan kertas Indonesia sehingga Indonesia belum mampu masuk dalam lima besar ekspor pulp dan kertas di dunia. Berikut adalah beberapa solusi yang dapat diambil agar ekspor pulp dan kertas semakin meningkat, pertama Managing Director Sinar Mas Gandi Sulistiyanto mengatakan bahwa berbagai penanganan teknis dari hambatan perdagangan dapat dilakukan melalui sinergi yang solid antara stakeholder dimana pemerintah sebagai regulator dan pelaku usaha sebagai operator (Liputan6.com, 2017). Kedua, terkait permasalahan tingginya biaya produksi, Araminta Setyawati analis dari Bank Mandiri menghimbau produsen untuk memotong biaya produksi dengan menyediakan mesin-mesin baru yang lebih efisien sepertu mengkombinasikan heat and power system (CHP) atau menggunakan highly lignified wood sebagai bahan bakar untuk menggantikan gas (Indonesia Investments, 2017).. Semoga kedepannya berbagai permasalahan dan hambatan di industri pulp dan kertas dapat diatasi baik dari sisi pemerintah maupun sisi pengusaha. Komunikasi dan koordinasi tentu merupakan kunci agar ekspor pulp dan kertas Indonesia bisa mencapai lima besar di dunia.

4. Analisis Sustainability Margin Ekspor hasil Hutan Indonesia

Komoditas ekspor hasil hutan merupakan komoditas unggulan dalam ekspor Indonesia. Kementerian Perdagangan Indonesia bahkan menempatkan komoditas ekspor hasil hutan sebagai salah satu dari sepuluh komoditas andalan ekspor Indonesia. Tiga Komoditas utama ekspor hasil hutan Indonesia tersebut adalah Furniture, kayu dan produk kayu, serta pulp dan dan kertas. Berikut adalah pertumbuhan ekspor dari tiga komoditas utama produk hasil hutan Indonesia:

 

Sumber: diolah penulis (Kementerian Perdagangan, 2017)

Nilai ekspor tertinggi diraih oleh produk pulp dan kertas, diikuti oleh komoditas kayu dan produk kayu dan selanjutnya adalah komoditas furniture. Nilai ekspor komoditas pulp dan kertas di tahun 2016 mencapai 3,7 Miliar US$, ekspor komoditas kayu dan produk kayu mencapai 3,19 Miliar US$ dan ekspor komoditas furniture sebesar 1,60 Miliar US$. Grafik diatas menunjukan bahwa pertumbuhan nilai ekspor dari ketiga produk tersebut menunjukan tren yang menurun. Penurunan ekspor produk hasil hutan terjadi sejak periode 2014 sampai tahun 2016. Penurunan pertumbuhan nilai ekspor tertinggi terdapat di komoditas pulp and kertas. Pertumbuhan ekspor dari hasil hutan yang menurun tentu menjadi peringatan bagi segala pihak untuk bertindak. Saat ini Indonesia telah menjadi juara satu dalam industi kertas di kawasan ASEAN. Apabila penurunan nilai ekspor ini tidak segera ditindaklanjuti, maka Indonesia dapat disalip oleh pemain-pemain lain dalam ekspor hasil hutan. Keberlanjutan ekspor suatu komoditas dapat diukur melalui sustainability margin.

Sustainability Margin merupakan salah satu indikator yang terdapat di dalam trade toolkit indicator yang diterbitkan oleh Bank Dunia. Salah satu alat analisis di dalam sustainability margin yang dapat mengukur keberlanjutan ekspor suatu negara adalah indikator dekomposisi pertumbuhan ekspor (decomposition of export growth). Melalui dekomposisi pertumbuhan ekspor, ekspor suatu komoditas dibagi menjadi tiga yaitu

  1. Intensive Margin (IM), artinya produk komoditas yang diekspor dari industri dari tahun ke tahun selalu sama
  2. New Product Margin (NPM), artinya terdapat produk komoditas baru yang diekspor di dalam industri tersebut
  3. Death Margin (DM), artinya terdapat produk komoditas yang sudah tidak diekspor di tahun-tahun selanjutnya

Komoditas ekspor yang dipilih untuk menggambarkan ekspor komoditas hutan adalah komoditas dengan kode HS 44 dan kode HS 48. Komoditas dengan kode HS 44 adalah komoditas wood and articles Wood, sedangkan komoditas dengan kode HS 48 adalah komoditas 48 paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard. Berikut adalah hasil dari perhitungan dekomposisi pertumbuhan ekspor dari periode tahun 2001 sampai tahun 2016

Sumber: International Trade Centre, 2017 diolah

Grafik diatas menunjukan bahwa pada komoditas HS 44, banyak produk komoditas baru yang diekspor Indonesia. Nilai dari new product margin (NPM)  jauh lebih tinggi dibandingkan nilai dari intensive margin (IM). Hal tersebut turut menunjukan bahwa jumlah komoditas hasil hutan Indonesia yang diekspor semakin banyak. Setidaknya terdapat 28 turunan komoditas ekspor hasil hutan baru dalam level HS 6 digit dari HS 44 (HS 2 digit). Hal tersebut tentu menjadi berita baik bagi Indonesia. Grafik dibawah ini menunjukan dekomposisi pertumbuhan ekspor dari komoditas 48 Indonesia pada tahun 2001 sampai tahun 2016.

Sumber: International Trade Centre, 2017 diolah

Pada komoditas HS 48, nilai dari dekomposisi pertumbuhan ekspor new product margin (NPM) juga jauh lebih tinggi dibandingkan nilai dari intensive margin (IM). Artinya, pada komoditas HS 48, banyak produk ekspor hasil hutan yang juga baru. Dalam hitungan penulis, setidaknya terdapat lebih dari 25 turunan komoditas baru yang diekspor Indonesia pada level HS 48. Jika dilihat dari sisi keberlanjutan ekspor, sebenarnya ekspor hasil hutan Indonesia sudah semakin terdiversifikasi dan sudah mampu menciptakan banyak produk baru.

Indonesia juga telah mencapai prestasi yang cukup membanggakan dengan adanya Penandatanganan Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT). Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rufi’ie menargetkan kinerja ekspor kayu Indonesia dapat meningkat hingga 10 persen di tahun 2017 karena adanya penandatanganan regulasi tersebut (Tempo.co, 2017). Penandatanganan Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) menunjukan adanya harmonisasi standar dengan Uni Eropa untuk komoditas kayu. Penandatanganan Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) menjadi peluang besar untuk meningkatkan pasar ekspor hasil hutan ke Eropa. FLEGT berperan besar karena produk kayu Indonesia yang lolos sertifikasi dapat langsung menuju Eropa. Rufi’e menyampaikan bahwa beberapa negara di ASEAN mengalami penolakan dalam ekspor produk kayunya ke eropa. Penolakan tersebut disebabkan karena produk kayu dari negara-negara di ASEAN tidak memenuhi standar dari FLEGT. Indonesia dapat mengambil potensi dari ekspor produk kayu di pasar eropa.

Bukan berarti industri ekspor hasil hutan tidak memiliki tantangan. Tantangan utama dari industri ekspor hasil hutan adalah menyusutnya bahan baku, terutama bahan baku pulp. Penerapan PP No.57/2016 Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, serta sejumlah keputusan dan peraturan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup sebagai aturan teknisnya turut menyebabkan pasokan chip kayu (cci Indonesia, 2017). Bahan baku untuk pulp masih bergantung kepada chip kayu sehingga para pelaku industri harus mencari alternatif lain. Industri digitial turut menjadi tantangan utama yang dihadapi pelaku usaha industri hasil hutan. Media-media digital seperti portal berita online semakin marak dan memberikan informasi jauh lebih cepat. Hal tersebut tentu mempengaruhi permintaan akan media cetak sehingga dikhawatirkan penjualan media cetak menurun. Tentu saja penurunan permintaan media cetak akan turut memukul para pelaku industri hasil hutan, khususnya pelaku industri pulp dan kertas.

C. Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

1. Kesimpulan

Ekspor produk hasil hutan dibagi menjadi tiga produk utama. Tiga produk utama tersebut adalah Furniture, kayu dan produk kayu, serta pulp dan dan kertas. Nilai ekspor tertinggi diraih oleh produk pulp dan kertas, diikuti oleh komoditas kayu dan produk kayu dan selanjutnya adalah komoditas furniture. Ekspor hasil hutan Indonesia juga memiliki nilai RSCA yang positif, sehingga hal tersebut menunjukan bahwa ekspor produk hasil hutan Indonesia memiliki keunggulan komparatif. Ekspor hasil hutan Indonesia memiliki konsentrasi yang cukup rendah yang diukur melalui nilai indeks herfindahl. Nilai indeks herfindahl mengalami penurunan yang cukup drastis dari tahun 2012 menuju 2013, Namun, semenjak tahun tersebut, tren dari indeks herfindahl mengalami peningkatan. Hal tersebut menunjukan terjadinya peningkatan konsentrasi ekspor pada industri hasil hutan Indonesia. Dari sisi kualitas ekspor yang diukur melalui indeks PRODY, dalam ekspor komoditas HS 47, Indonesia memang masih berada di peringkat 8 dunia. Indonesia berada dibawah Amerika, Kanada, Brazil, Chile, Swedia, Finlandia dan Belanda. Hasil perhitungan indeks PRODY menunjukan bahwa nilai PRODY Indonesia berada di yang paling rendah jika dibandingkan dengan Amerika, Kanada, Swedia. Namun, sejak tahun 2012 sampai tahun 2016 nilai dari indeks PRODY menunjukan tren yang meningkat, walaupun nilai PRODY sempat menurun di periode 2013-2014. Pada indikator sustainability margin yang diukur melalui dekomposisi pertumbuhan ekspor, terdapat banyak produk komoditas baru pada komoditas HS 44 yang diekspor Indonesia. Nilai dari new product margin (NPM)  jauh lebih tinggi dibandingkan nilai dari intensive margin (IM). Hal tersebut turut menunjukan bahwa jumlah komoditas hasil hutan Indonesia yang diekspor semakin banyak. Pada komoditas HS 48, nilai dari dekomposisi pertumbuhan ekspor new product margin (NPM) juga jauh lebih tinggi dibandingkan nilai dari intensive margin (IM). Artinya, pada komoditas HS 48, banyak produk ekspor hasil hutan yang juga baru.

2. Rekomendasi Kebijakan

Berikut adalah beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat diambil agar industri hasil hutan mampu mengatasi berbagai tantangan dan hambatan di masa mendatang:

  1. Intensive Margin

Penegakan peraturan secara tegas untuk mencegah terjadinya ekspor-ekspor kayu ilegal. Data dari Forest Watch Indonesia (FWI) menyebutkan bahwa lebih dari 50 persen administratif ekspor kayu dari Indonesia berkategori ilegal.

  1. Extensive Margin

Perlunya melakukan diversifikasi ekspor produk hasil hutan Indonesia. Ekspor produk hasil hutan masih cenderung dikuasai oleh industri pulp dan kertas. Bahkan dalam industri tersebut juga terjadi peningkatan konsentrasi ekspor. Indonesia perlu memperkuat ekspor produk hasil hutan lain, seperti furnitur, bambu maupun rotan.

  1. Quality Margin dan Sustainability Margin

Menghimbau produsen untuk memotong biaya produksi dengan menyediakan mesin-mesin baru yang lebih efisien sepertu mengkombinasikan heat and power system (CHP) atau menggunakan highly lignified wood sebagai bahan bakar untuk menggantikan gas.

D. Referensi

Binus (2017). Industri Kertas di Indonesia. Diakses pada http://sis.binus.ac.id/2016/12/16/industri-kertas-di-indonesia/

Bisnis Indonesia. (2017). Industri Pulp Masih Potensial. Diakses pada http://industri.bisnis.com/read/20170806/257/678548/industri-pulp-masih-potensial

Bisnis Indonesia. (2017). Nilai Ekspor Indonesia didominasi Produk Kertas. Diakses pada http://industri.bisnis.com/read/20170711/12/670160/nilai-ekspor-indonesia-didominasi-produk-kertas

CCI Indonesia. (2017). Industri Kertas ditengah Tantangan Menyusutnya Bahan Baku. Diakses pada http://cci-indonesia.com/2017/10/25/industri-kertas-ditengah-tantangan-menyusutnya-bahan-baku/

Frank, Todd (2017). Indonesia Becomes World’s First Country to Export Forestry Products Under EU’s Strict Timber Legality Rules. Diakses pada https://www.scsglobalservices.com/blog/indonesia-becomes-worlds-first-country-to-export-forestry-products-under-eus-strict-timber

https://www.indonesia-investments.com/id/news/todays-headlines/pulp-and-paper-industry-indonesia-challenges-and-opportunities/item7738

Indonesia Investment. (2017). Pulp and Paper Industry Indonesia Challenges and Opportunities. Diakses pada

https://www.indonesia-investments.com/id/news/todays-headlines/pulp-and-paper-industry-indonesia-challenges-and-opportunities/item7738

International Trade Centre. (n.d.a). List of exporters for the selected product, product: 44 Wood and articles of wood; wood charcoal (exported value). Diperoleh dari https://International Trade Centre.org/Country_SelProductCountry_TS.aspx?nvpm=1|360||||44|||2|1|1|2|2|1|2|1|

International Trade Centre. (n.d.b). List of exporters for the selected product, product: 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) paper or paperboard. Diperoleh dari

https://International Trade Centre.org/Country_SelProductCountry_TS.aspx?nvpm=1|360||||47|||2|1|1|2|2|1|2|1|1

International Trade Centre. (n.d.c). List of exporters for the selected product, product: 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard

. Diperoleh dari

https://International Trade Centre.org/Country_SelProductCountry_TS.aspx?nvpm=1|360||||48|||2|1|1|2|2|1|2|1|1

Kemenperin. Ekspor Pulp & Kertas diprediksi tumbuh. Diakses pada http://www.kemenperin.go.id/artikel/3433/Ekspor-pulp-&-kertas-diprediksi-tumbuh-4

Kemenperin. Kualitas Kertas Bekas Lokal Rendah. Diakses pada http://www.kemenperin.go.id/artikel/11378/Kualitas-Kertas-Bekas-Lokal-Rendah

Kemenperin. (n.d.a). Perkembangan Ekspor Kelompok Hasil Industri Kertas dan Barang dari Kertas. Diperoleh dari http://www.kemenperin.go.id/statistik/kelompok.php?ekspor=1

Merdeka.com. (2017). Hasil Industri Hutan jadi Produk Unggulan RI. Diakses pada https://www.merdeka.com/uang/2-hasil-industri-hutan-jadi-produk-unggulan-ri.html

Okezone.com. (2017). Siap-siap Industri Pulp Indonesia Bakal Masuk Peringkat 5 Dunia. Diakses pada https://economy.okezone.com/read/2017/01/31/320/1605551/siap-siap-industri-pulp-indonesia-bakal-masuk-peringkat-5-dunia

Tempo.co. (2017). Ekspor Kayu diprediksi tumbuh hingga 10 persen. Diakses pada https://bisnis.tempo.co/read/840223/ekspor-kayu-diprediksi-tumbuh-hingga-10-persen

Share This Post:

Author(s)

Related Articles:

Leave a Comment

Please Login to Comment