Peluang dan Tantangan Bonus Demografi Indonesia dalam Era Revolusi Industri 4.0

Peluang dan Tantangan Bonus Demografi Indonesia dalam Era Revolusi Industri 4.0

Bagikan Tulisan Ini:

Jumlah dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menentukan daya saing sebuah negara dalam berbagai aspek. Salah satunya dengan berkembangnya revolusi industri 4.0 yang merupakan fase perubahan drastis di berbagai bidang kehidupan, baik teknologi, ekonomi, sosial, budaya, hingga politik. SDM sebuah negara dituntut untuk mengikuti perkembangan yang sedang terjadi dan mengikuti kebutuhan kemampuan dan keahlian sesuai masa tersebut.

Indonesia sendiri berada pada fase pertumbuhan penduduk yang tinggi dan dapat disebut akan mengalami bonus demografi. Fase tersebut perlu dikelola dengan baik agar Indonesia mendapatkan manfaat dari kondisi tersebut. Akan tetapi fase tersebut bersamaan dengan perkembangan revolusi industri 4.0 yang hingga saat ini menimbulkan berbagai kekhawatiran dari banyak pihak. Selanjutnya artikel ini akan membahas peluang dan tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia karena mengalami bonus demografi pada saat yang sama dengan revolusi industri 4.0. Serta memberikan gambaran situasi yang akan dihadapi dan memetakan upaya yang perlu dilakukan.

Bonus Demografi di Indonesia

Bonus demografi merupakan kondisi dimana jumlah penduduk produktif lebih banyak dibandingkan penduduk pada usia tidak produktif. Menurut Jati (2013, dalam Sri Maryati, 2018) terdapat beberapa keuntungan yang akan didapatkan sebuah negara apabila mengalami bonus demografi, seperti penawaran tenaga kerja yang memenuhi kebutuhan industri. Kedua, potensi peningkatan pendapatan per kapita disebabkan tenaga kerja produktif dan adanya peluang kerja. Ketiga, peningkatan peran perempuan dalam pasar kerja. Serta terakhir peningkatan tabungan masyarakat dan dapat dikelola untuk kegiatan produktif.

Data BPS menyebutkan bahwa pada tahun 2019, jumlah usia produktif di Indonesia mencapai 67% dari total penduduk di Indonesia. Sekitar 45% dari 67% usia produktif tersebut berusia 15-34 tahun. Pada kondisi tersebut Indonesia berada pada kondisi bonus demografi karena jumlah usia produktif menanggung lebih sedikit penduduk tidak produktif. Akan tetapi terdapat pula tantangan setelah bonus demografi, yaitu masa aging society. Aging society yaitu usia lansia akan meningkat.

Isu Ketenagakerjaan dalam Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri 4.0 merupakan terminologi yang digunakan untuk menjelaskan peralihan model bisnis dari akibat perkembangan teknologi. Revolusi keempat ditandai dengan penggunaan Internet of Things (IoT) yang menghubungkan mesin dengan sistem teknologi informasi. Lalu ada penggunaan big data sebagai materi analisis kondisi secara real time, pengelolaan, hingga memproyeksikan kondisi yang akan terjadi. Selanjutnya ada pula penggunaan robot, collaborative robot, sensor, virtual dan augmented reality, hingga 3D printing dalam industri manufaktur dan industri menengah.

Selama ini industri manufaktur Indonesia menyerap banyak tenaga kerja. Adanya revolusi industri 4.0 mengubah struktur tenaga kerja di berbagai negara, sedangkan Indonesia sendiri saat ini sedang menuju ke arah tersebut juga. Transformasi tenaga kerja akibat revolusi industri 4.0 merupakan sebuah keniscayaan.

World Economic Forum pada tahun 2018 melakukan analisis dan menjelaskan bahwa terdapat beberapa perubahan struktur ketenagakerjaan akibat revolusi industri 4.0. Seperti akan adanya perubahan dari proses produksi yang sederhana dan tradisional menuju otomasi dan augmentatif. Diproyeksikan bahwa beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh manusia dapat digantikan dan lebih berkembang apabila dilakukan oleh mesin dan teknologi informasi.

Di sisi lain ada pula perspektif yang dapat disebut “Augmented strategy”. Strategi tersebut merujuk pada upaya bisnis untuk melakukan otomasi terhadap beberapa pekerjaan untuk melengkapi perkerjaan saat ini. Serta bertujuan untuk membantu dan menambah kekuatan dari pekerjaan yang dilakukan manusia.

Menurut penelitian McKinsey pada tahun 2017, terdapat beberapa tugas yang dapat digantikan oleh mesin, sehingga tidak keseluruhan pekerjaan manusia. Diproyeksikan sekitar dua dari tiga tugas saat ini dapat diotomasi dengan teknologi yang ada sekarang. Serta sekitar satu dari empat peran atau pekerjaan saat ini memiliki 70% tugas yang dapat diotomasi. Konteks Indonesia sendiri menurut analisis McKinsey (2017), sekitar 49-51% tenaga kerja Indonesia berpotensi digantikan mesin apabila mengadaptasi teknologi yang telah ada saat ini.

Tantangan

Bonus demografi yang didapatkan oleh Indonesia juga memiliki beberapa risiko. Apabila potensi bonus demografi tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, maka terdapat potensi masalah sosial dan ekonomi yang akan ditimbulkan. Seperti pengangguran yang tinggi, konflik sosial, kriminalitas, tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang rendah, dan lain-lain.

Tantangan berikutnya yaitu bagaimana bonus demografi Indonesia dapat memanfaatkan revolusi industri 4.0 yang sedang terjadi pada saat yang sama. Apabila sumber daya manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik, maka bonus demografi Indonesia akan menjadi beban dan masalah. Hal ini karena revolusi industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknologi, berpikir kritis, hingga kreativitas. Apabila bonus demografi Indonesia didominasi oleh sumber daya manusia dengan keahlian dasar, maka kemungkinan besar akan digantikan oleh teknologi.

Revolusi industri merupakan proses perubahan proses produksi dalam waktu cepat dan membutuhkan adaptasi tenaga kerja dalam waktu singkat. Menurut analisis World Economic Forum pada Report Future of Jobs, tantangan di bidang tenaga kerja adalah skill gaps atau kesenjangan antara kebutuhan keahlian dengan kapasitas yang dimiliki oleh tenaga kerja.  Terdapat beberapa pilihan yang dapat dilakukan oleh perusahaan, seperti mengganti keseluruhan tenaga kerja dengan staf baru yang memiliki kapasitas yang dibutuhkan. Kedua, melakukan otomasi pada setiap tugas yang dibutuhkan dan menggantikan dengan mesin secara keseluruhan. Ketiga, melakukan peningkatan kapasitas tenaga kerja yang telah ada agar memiliki keahlian yang relevan.

Peluang

Bonus demografi memberikan berbagai peluang bagi suatu negara untuk berkembang dan meningkatkan kesejahteraannya. Menurut Sri Moertiningsih Adioetomo, Guru besar ekonomi kependudukan Universitas Indonesia, keuntungan dari bonus demografi berupa potensi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), usia produktif lebih banyak dibanding tidak produktif, memiliki kesempatan untuk bekerja, dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

Menurut kajian World Economic Forum, dalam Report Future of Jobs tahun 2018, pada tahun 2022 sekitar 54% tenaga kerja membutuhkan reskilling dan upskilling. Upaya tersebut menjadi sebuah kebutuhan agar data bersaing di era industri 4.0, dimana terdapat perkembangan teknologi dan perubahan proses produksi dan layanan. Diproyeksikan untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan waktu sekitar enam hingga 12 bulan untuk melakukan reskilling dan upskilling.

Berbagai pihak di Indonesia harus memanfaatkan peluang bonus demografi semaksimal mungkin. Terdapat peluang dari program-program yang dilakukan pemerintah untuk mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia menghadapi perubahan akibat revolusi industri 4.0 dan pada saat yang sama mengantisipasi bonus demografi. Seperti upaya Kementerian Tenaga Kerja untuk memodernisasi Balai Latihan Kerja (BLK) dan program magang dibidang teknologi digital. Dari Kementerian Tenaga Kerja juga telah menyadari pentingnya peraturan tentang hubungan industrial pada masa revolusi industri 4.0, maka sangat penting kesadaran tersebut diturunkan menjadi kebijakan.

Selain potensi dari kebijakan pemerintah, saat ini muncul pula berbagai inkubasi bisnis berbasis teknologi atau start-up. Contohnya seperti Asosiasi e-Commerce Indonesia, Indigo Inkubator yang dikembangkan oleh Telkom, Ciputra Gepi Incubator yang dibina oleh swasta, Mandiri Inkubator Bisnis yang dikembangkan Bank Mandiri, Skystar Ventures, dan lainnya. Berbagai inkubator bisnis tersebut ada yang memfasilitasi fasilitas usaha dan teknologi, modal usaha, hingga pendampingan. Hal tersebut merupakan potensi bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha di berbagai bidang dengan memanfaatkan teknologi 4.0. Sehingga dapat bersaing di era industri 4.0 bukan hanya sebagai staf, tetapi juga menjadi pelaku usaha.   

Kesimpulan

Indonesia akan menghadapi bonus demografi dimana jumlah usia produktif akan lebih tinggi dibandingkan penduduk tidak produktif. Pada satu sisi kondisi tersebut dapat menjadi potensi bagi pengembangan kualitas hidup dan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi sisi lainnya ada tantangan berupa penyiapan sumber daya manusia. Serta ditambah pula dengan adanya revolusi industri 4.0 yang membutuhkan reskilling dan upskilling tenaga kerja yang ada saat ini. Dibutuhkan peran berbagai pihak untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia agar memiliki daya saing ketika bonus demografi mencapai puncaknya dan persaingan industri 4.0 semakin ketat.

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Nitia Agustini KA

Researcher

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment