Proyeksi Perkembangan Industri 4.0 di Tahun 2019

Proyeksi Perkembangan Industri 4.0 di Tahun 2019

Bagikan Tulisan Ini:

Pada tahun 2018 revolusi industri 4.0 berkembang dengan sangat pesat dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi. Dalam implementasi di industri, teknologi berbasis 4.0 juga berkembang sangat pesat dibandingkan sebelumnya. Pada tahun 2018, di Amerika telah diperkenalkan layanan Taxi dengan teknologi self-driving pertama. Selanjutnya di China juga telah digunakan artificial intelligent pertama di dunia yang bisa menjadi pembaca berita, yaitu di Xinhua News. Bahkan perusahaan aerospace dunia, Lockheed Martin telah mulai menggunakan 3D printing untuk membuat bagian-bagian dalam pembuatan produknya, yaitu F-35 Full Mission Simulator (FMS) dan F35 fighter. Mereka melakukan investasi dalam otomasi dan 3D Printing, dampaknya penggunaan 3D Printing tersebut mampu mengurangi harga produknya, bahkan mengurangi biaya hingga $45 juta.

Inovasi dalam bidang teknologi 4.0 pada tahun 2018 juga ada yang menimbulkan pertentangan. Bayi pertama yang merupakan hasil gene-edited dilahirkan di China dan menimbulkan masalah etik dan moral. Hal ini karena seorang peneliti di China, yaitu He Jiankui dari Southern University of Science and Technology di Shenzen menyatakan bahwa dari tujuh pasangan, ada satu kehamilan yang berhasil dicapai. Tujuannya yaitu untuk mengurangi risiko kesehatan. Akan tetapi hal tersebut menimbulkan penolakan dan kritik karena masalah keamanan dan penolakan eksperimen pada manusia.

Dinamika pada tahun 2018 menjadi gambaran bahwa pada tahun 2019 perkembangannya akan lebih pesat lagi. Lalu inovasi seperti apa yang akan bermunculan? Bagaimana perubahan pada industri manufaktur dengan masifnya adaptasi teknologi industri 4.0?

Intelligent Manufacturing

Industri 4.0 ditandai dengan pengembangan teknologi Artificial Intelligent (AI), Internet of Things (IoT), big data, 3D printing, dan robot. Berbagai teknologi tersebut akan terintegrasi untuk memberikan jasa dan melakukan produksi. Menurut CEO Microsoft, Satya Nadella (dalam Milos L. Novakovic, 2018), ke depan akan ada konektivitas teknologi tersebut sebagai solusi berbagai tantangan saat ini serta akan mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Satya Nadella menggunakan istilah “Tech intensity” untuk menjelaskan penggabungan sistem Teknologi Informasi (IT) dengan teknologi operasional untuk membuat solusi cerdas. Tantangan yang dihadapi oleh industri manufaktur saat ini adalah mengolah data, penyelesaian masalah secara real-time, dan otomasi operasional. Berbagai tantangan tersebut dapat ditangani dengan Tech intensity.

Tech intensity akan mengubah pola pikir dan proses bisnis dengan menggunakan kapasitas digital untuk memproses informasi dan data. Selanjutnya akan diberikan timbal balik berupa data, masukan, prediksi, hingga proses kerja yang otomatis. Masa depan industri manufaktur pada tahun 2019 diproyeksi akan berkembang hingga mencapai intelligent manufacturing.

Darragh McMorrow, Direktur dari SL Controls’ Commercial menyatakan bahwa terdapat beberapa teknologi industri 4.0 yang akan berkembang pada tahun 2019 dan mempengaruhi industri manufaktur secara masif. Berbagai inovasi teknologi ini akan digunakan untuk meningkatkan daya saing industri, terutama di sektor teknologi.

Aplikasi Virtual dan Augmented Reality

Menurut Darragh McMorrow, pada tahun 2019 penggunaan virtual, augmented, dan mixed reality akan semakin besar dalam industri manufaktur. Teknologi tersebut digunakan mulai dari proses desain produk, pengembangan produk, pengembangan Overall Equipment Effectiveness (OEE), pendukung teknis, membantu pelatihan, kolaborasi dalam tim, hingga manajemen. Teknologi tersebut akan membantu industri menjadi lebih efektif dan efisien. Bahkan dengan penggunaan virtual dan augmented reality memungkinkan teknisi mengatur dan menggunakan mesin dari jarak jauh.

Pemanfaatan Digital Twin Technology

Digital Twin Technology merupakan model virtual dari sebuah proses, produk, dan layanan. Teknologi ini akan membandingkan dunia virtual dan kondisi fisiknya dan selanjutnya memudahkan analisis data dan monitoring sistem untuk mengetahui masalah sebelum masalah tersebut muncul. Serta mencegah masalah dan mengembangkan peluang baru.

Bahkan menurut Thomas Kaiser, selaku Senior Vice President dari SAP IoT, menyatakan bahwa digital twin merupakan teknologi yang sangat penting dalam bisnis. Karena akan menjadi gambaran keseluruhan proses bisnis, perputaran produksi, dan menjadi dasar untuk menghubungkan produk dengan pelayanan. Bisnis yang tidak merespon adanya digital twin technology akan gagal dalam bersaing.

Menurut Darragh McMorrow, pada tahun 2019 penggunaan digital twin technology akan semakin masif. Apabila sebuah bisnis memiliki digital twin dari setiap peralatan atau seluruh proses produksi, maka teknisi akan mampu menjalankan machine learning, melakukan prediksi setiap proses, membuat perencanaan pemeliharaan alat, dan lainnya.

Meningkatnya Permintaan Cobots

Cobots atau collaborative robots merupakan model robot terbaru yang dibuat untuk bekerja bersama manusia. Cobots dibuat dengan memiliki sensor dan vision technology sehingga dapat bekerja di samping manusia tanpa perlu dipisahkan. Penggunaan kekuatan komputer yang advanced dan teknologi robot membuat cobot menjadi ideal digunakan, bahkan bagi industri yang menengah. Kelebihan cobots menurut Bernard Marr, kontributor Forbes, yaitu mudah diprogram, proses setup yang lebih cepat dibandingkan robot tradisional, lebih fleksibel, dan aman digunakan.

Pasar cobots di masa depan diproyeksikan akan terus berkembang. Bahkan pada tahun 2025 diproyeksi pasar cobots akan mencapai $12,3 juta. Hal ini karena harga cobots saat ini lebih terjangkau dan lebih mudah digunakan dibandingkan robot tradisional. Melihat perkembangan cobots pada tahun 2018, diprediksi pada tahun 2019 permintaan cobots akan terus meningkat di berbagai sektor. Menurut data Microsoft, penjualan cobots akan meningkat dari tahun 2018 sebanyak 58000 cobots menjadi 90000 cobots pada tahun 2019. Bahkan pada tahun 2020 permintaannya akan meningkat lagi menjadi 150000 cobots.

Kolaborasi IT dan OT

Sebelumnya IT dan OT dipisahkan dalam industri manufaktur. IT lebih banyak mendukung aspek manajemen, pemasaran, akuntansi, pembelian, dan lainnya. Sedangkan Operational Technology (OT) banyak digunakan untuk melakukan monitoring dan mengontrol peralatan dan melakukan pengawasan terhadap produksi.

Berkembangnya intelligent manufacturing mendorong penggunaan big data dan IoT untuk mengintegrasikan berbagai mesin dan sistem dalam sebuah bisnis. Tujuannya agar bisnis menjadi lebih efektif, efisien, dan produktif.

Microsoft memproyeksikan bahwa penggunaan IoT akan semakin banyak ditahun 2019. Hal ini karena IoT menjadi kunci intelligent manufacturing dan arah perkembangan revolusi industri 4.0. Hingga tahun 2021 diproyeksi sekitar 36,13 miliar IoT akan terhubung di berbagai sektor industri.

Secara keseluruhan di seluruh dunia pada tahun 2018, berbagai industri menghabiskan biaya sekitar &772 miliar pada tahun 2018 untuk IoT. Pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai $1 triliun. Hal ini karena IoT akan menjadi teknologi penting untuk melakukan prediksi, pengelolaan, dan mengembangkan machine learning dalam industri.

Kesimpulan

Tahun 2018 telah menjadi tahun dengan banyak inovasi teknologi dan perkembangan industri 4.0 dalam industri manufaktur. Inovasi dan implementasi teknologi 4.0 pada tahun 2019 diproyeksi akan lebih masif. Mayoritas industri akan mengarah pada intelligent manufacturing dengan menggunakan berbagai macam teknologi. Beberapa teknologi yang permintaannya akan semakin tinggi yaitu virtual dan augmented reality, digital twin technology, cobots, penggabungan IT dan OT menjadi IoT.

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Nitia Agustini KA

Researcher

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment