Bagaimana Revolusi Industri 4.0 Berkontribusi Pada Pengurangan Kesenjangan Ekonomi?

Bagaimana Revolusi Industri 4.0 Berkontribusi Pada Pengurangan Kesenjangan Ekonomi?

Bagikan Tulisan Ini:

Revolusi industri 4.0 memunculkan beragam kekhawatiran dari berbagai pihak terkait penurunan jumlah pekerjaan dan akan terjadinya pengangguran karena tenaga manusia akan tergantikan oleh mesin. Sebagai pengantar, revolusi industri 4.0 bukan hanya fokus pada pengembangan robot sebagai alat produksi secara masif. Terdapat banyak teknologi lain yang berkembang pada revolusi industri keempat ini, seperti pemanfaatan big data dalam pembuatan produk dan jasa, penggunaan Internet of Things (IoT), dan menghubungkan mesin dan Artificial Intelligent (AI) untuk mengerjakan berbagai hal yang sulit dan berbahaya bagi manusia.

Maka dalam artikel ini akan dibahas sekilas berbagai kesenjangan sosial yang terjadi selama ini dan yang berisiko terjadi di masa depan dengan semakin berkembangnya persaingan ekonomi. Selanjutnya bagaimana peran teknologi digital dan revolusi industri 4.0 dalam menghubungkan kelompok yang termarginalkan untuk mengakses berbagai sumber daya.

Kesenjangan Sosial: Masalah Sosial dari Satu Revolusi ke Revolusi Berikutnya

Saat ini revolusi industri telah mengalami perkembangan dari revolusi pertama hingga keempat. Revolusi industri pertama ditandai dengan ditemukannya mesin uap sebagai alat untuk produksi massal pertama. Sebelumnya masyarakat di Eropa memiliki aktivitas harian berupa bertani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ditemukannya mesin uap menyebabkan terjadinya industrialisasi dan perubahan pekerjaan.

Revolusi industri kedua terjadi dengan ditemukannya listrik dan selanjutnya revolusi industri ketiga terjadi ketika manusia mulai menggunakan komputer. Ketiga revolusi industri tersebut selalu diikuti dengan perubahan teknologi yang digunakan dalam industri, pergantian pekerjaan, pengurangan pekerjaan dibidang-bidang tertentu dan sering kali merupakan pekerjaan yang dominan sebelumnya.

Selain itu, ada pula masalah yang sama-sama ditimbulkan oleh ketiga revolusi industri tersebut, yaitu kesenjangan sosial. Teknologi yang berkembang mengakibatkan perubahan kebutuhan tenaga kerja dan permintaan akan teknologi yang lebih canggih. Kesenjangan sosial pun terjadi karena revolusi industri mengakibatkan beberapa kelompok orang tidak mampu bersaing mengikuti perubahan. Serta tidak mampu mengakses informasi, pendidikan, dan teknologi yang sedang berkembang.

Kesenjangan ekonomi pada tiap revolusi industri terjadi karena beberapa hal, salah satunya karena kesenjangan pendidikan. Adanya perbedaan antara kebutuhan industri dengan pendidikan yang didapatkan. Hal ini terkait dengan akses pendidikan yang mendasar, pendidikan yang berkaitan dengan keahlian, hingga materi pendidikan yang diberikan belum sesuai dengan kebutuhan industri. Akibatnya, terdapat sumber daya manusia yang tidak mampu bersaing di industri dan berakhir menjadi tenaga kerja dengan kemampuan mendasar dan diupah minimal.

Revolusi industri keempat yang sedang terjadi juga menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak. Seperti adanya pengurangan tenaga kerja dan pergantian pekerjaan pada revolusi industri sebelumnya, pada revolusi industri 4.0 hal tersebut juga menjadi kekhawatiran utama.

Saat ini kesenjangan akses teknologi di Indonesia sudah terlihat dan menjadi salah satu kendala dalam persaingan industri 4.0 di Indonesia. Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017 penetrasi pengguna internet di Indonesia sekitar 54,68% atau sebanyak 143,26 juta jiwa dari total 262 juta penduduk Indonesia. Dapat dilihat bahwa sebenarnya masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum mengakses internet.

Selanjutnya bagaimana dengan pemerataan akses internet dan penetrasi internet masyarakat di berbagai wilayah Indonesia? Masih menurut data APJII tahun 2017, mayoritas penetrasi internet ada di Pulau Jawa sebanyak 58,08. Sedangkan pulau lain sangat kecil dibandingkan Pulau Jawa, yaitu sekitar 19,09% di Pulau Sumatera, 7,97% di Pulau Kalimantan, 6,73% di Pulau Sulawesi, 5,63% di wilayah Bali-Nusa, dan hanya 2,49 di Maluku-Papua.

Secara lebih detail, data APJII tahun 2017 menunjukkan bahwa Pulau Kalimantan penetrasi internetnya cukup tinggi, yaitu 72,19%. Dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan di Pulau Kalimantan cukup baik penetrasi internetnya. Selanjutnya di Pulau Jawa dan Bali-Nusa penetrasi internet sebesar 57,7% dan 54,23%. Sedangkan di Pulau Sumatera, Sulawesi, dan Maluku-Papua penetrasi internetnya di bawah 50%. Maka kebijakan yang perlu dikembangkan yaitu pemerataan infrastruktur dan akses internet di berbagai wilayah Pulau di Indonesia. Setelah mendapatkan akses, maka kesenjangan akibat perkembangan teknologi berpotensi untuk dikurangi.

Peluang Pengurangan Kesenjangan

Dalam mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia, dibutuhkan kebijakan yang strategi dan program yang efektif. Selain itu, masyarakat selaku kelompok terdampak dari program dan mengalami masalah ekonomi akibat adanya kesenjangan menjadi aktor utama. Berbagai program dan kebijakan yang ada perlu memperhatikan kebutuhan dan kondisi masyarakat sebagai kelompok sasaran.

Terdapat Indeks Pembangunan Manusia atau IPM untuk mengukur sejauh mana kualitas sumber daya manusia suatu negara. Indonesia sendiri berada pada kondisi IPM sedang. Seiring berjalannya waktu, kesenjangan IPM di berbagai daerah terus berkurang karena terjadi peningkatan IPM di berbagai daerah di Indonesia. Terutama di wilayah Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Barat, masing-masing daerah tersebut mengalami peningkatan IPM sebanyak 1,4%, 1,2%, dan 1,1% dari tahun 2015 ke tahun 2018.

Menurut Yenny Tjoe, pengajar di International Economics, Griffith University, bahwa Indeks Gini atau kesenjangan di berbagai di Indonesia mengalami penurunan hingga tahun 2018. Berbagai macam program pemerintah menjadi salah satu faktor menurunnya kesenjangan, seperti kebijakan di bidang kesehatan melalui jaminan kesehatan, pendidikan dengan adanya Kartu Indonesia Pintar, dan penghasilan individu yang bertumbuh. Hal ini terlihat dari IPM Indonesia saat ini sebesar 70,8 dan meningkat sebanyak 1,3 % sejak tahun 2015. Kondisi tersebut merupakan potensi yang perlu terus dioptimalkan.

Peluang untuk mengurangi kesenjangan lainnya yaitu masifnya pembangunan infrastruktur berbagai wilayah di Indonesia. Kebijakan pemerintah Presiden Joko Widodo saat ini fokus pada pembangunan infrastruktur transportasi dan komunikasi di wilayah timur Indonesia.

Salah satu faktor terjadinya kesenjangan yaitu sulitnya akses transportasi, teknologi, dan informasi di luar pulau Jawa. Oleh karena itu, kebijakan tersebut menjadi sebuah peluang untuk membuka akses dan memberikan kesempatan secara merata dalam proses pengembangan masyarakat. Serta memberikan peluang bagi pengembangan industri besar, menengah, dan kecil di berbagai daerah. Hal tersebut sangat penting agar kegiatan ekonomi tidak berpusat di Pulau Jawa saja dan masyarakat di berbagai wilayah dapat ikut berkembang juga.

Teknologi 4.0: Dari Owning Menjadi Sharing

Revolusi industri 4.0 telah ada di depan mata kita saat ini. Perkembangan industri berbasis digital yang semakin banyak bermunculan dengan pengguna yang semakin tinggi menunjukkan bahwa permintaannya meningkat. Serta revolusi industri 4.0 merupakan sebuah realitas, bukan hanya ide-ide yang berkembang di kalangan ekonomi.

Saat ini teknologi 4.0 telah mulai digunakan dalam berbagai industri jasa dan produksi seperti transportasi, e-commerce, fashion, makanan dan minuman, dan lainnya. Penggunaan teknologi 4.0 tersebut seperti big data, artificial intelligent, robot, Internet of Things, dan lainnya.

Revolusi industri 4.0 berkembang dan menimbulkan disrupsi di sektor ekonomi. Disrupsi merupakan fenomena bisnis yang telah mapan akan bersaing dengan berbagai industri kecil yang muncul sehingga memaksa industri yang telah mapan untuk mengubah struktur hingga budaya bisnisnya. Disrupsi mengharuskan industri besar untuk mengikuti perkembangan pasar dan memenuhi kebutuhan masyarakat saat itu, bahkan mengakibatkan mereka harus berubah drastis atau akan kalah bersaing dengan industri yang lebih kecil.

Paradigma industri pun berubah dari owning menjadi sharing. Selama ini sebuah industri dikuasai atau dikelola oleh satu perusahaan saja. Akan tetapi perubahan dan terjadinya revolusi industri 4.0 membuat hal tersebut berubah, yaitu semakin banyak orang dan kelompok yang dapat terlibat dari hulu hingga hilir industri.

Contoh dari kondisi tersebut yaitu semakin banyak toko retail yang tutup dan tergantikan dengan e-commerce. Dalam e-commerce tersebut melibatkan banyak pedagang, terutama pelaku usaha kecil dan menengah dapat bersaing dan berkembang dengan pesat.

Penggunaan teknologi 4.0 bukan hanya dilakukan oleh industri saja. Akan tetapi bermunculan berbagai social entrepreneur yang menggunakan teknologi 4.0 dalam pengembangannya. Seperti E-Fishery yang menggunakan teknologi real time untuk usaha perikanan. Serta ada pula berbagai platform pendanaan untuk usaha kecil dan menengah seperti Gandeng Tangan dan Legal Modalku.

Kesimpulan

Disrupsi menimbulkan banyak kekhawatiran dari industri-industri yang telah mapan. Di sisi lain, hal ini memberikan peluang bagi berbagai kelompok masyarakat untuk terlibat dan membuat produk baru dengan peluang persaingan yang lebih berimbang. Munculnya berbagai platform e-commerce, penyedia dana untuk usaha kecil menengah dengan sistem lebih adil, serta industri baru berbasis teknologi 4.0 yang melibatkan banyak orang membuka kesempatan kerja dan usaha yang semakin besar.

Masalah kesenjangan sosial dan ekonomi berpotensi dikurangi dengan pelibatan semakin banyak orang dalam kegiatan usaha. Kebijakan pembangunan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi menjadi peluang memberikan kesempatan berbagai wilayah di Indonesia mengakses perubahan akibat revolusi industri 4.0. Serta agar seluruh masyarakat dapat terlibat dan mendapatkan manfaat dari perubahan yang terjadi dengan mengembangkan potensi masing-masing daerah.

Bagikan Tulisan Ini:

Penulis

Nitia Agustini KA

Researcher

Artikel Terkait:

Tinggalkan Komentar

Please Login to Comment